Hidup untuk orang lain (Why Not..???)

Banyak penafsiran tentang kehidupan, mulai dari yang ekstra sampai yang sederhana. Namun apakah kehidupan memang sederhana..?? tidak juga. terkadang hidup sangat rumit dan pekik bagi sebagian orang. oleh karenanya makna kehidupan berbeda-beda tergantung dari hal yang pernah dialami oleh penafsir tersebut.

kalau bisa diambil sebuah garis lurus (baca: kesimpulan) meskipun ini versi saya. sebenarnya kita hidup untuk orang lain. (Loh Koq?? haiyah jangan2 itu cuma penafsiran yang sesuai dengan pengalaman eeaaa,,,??) memang ini pengalaman, cuma.. saya coba dari sudut pandang yang bukan satu. Mari kita tengok sedikit…

pertama kenapa manusia hidup untuk orang lain dari sisi aku-nya. Terkadang kita lebih mementingkan keegoisan dari pada orang lain. Wajar saja, karena karena kepemilikan adalah sifat dasar manusia. Dimana ingin memiliki segala hal. (Lohh Mana kehidupan untuk orang lain…???) sebentar.. coba kita renungkan…

seseorang ingin memiliki sebuah barang atau mobil mewah.. apakah mobil itu ia simpan dirumah dan lihat-lihat sendiri atau dipake dan di pertontonkan orang banyak, sehingga menunjukan aku-nya..??? atau apakah sesorang dengan baju menawan hanya ingin memakai baju itu dikamar tanpa ada seorangpun yang tahu..?? itulah mengapa kehidupan orang seperti itu untuk orang lain. bukan untuk berbagi kebahagiaan. Namun sebaliknya.. Hanya akan menimbulkan sumpah serapah dan ghibah. memiliki saja sudah merupakan dosa besar (koq bisa..??) karena kita miliki sedangkan orang lain tidak . Ibarat Orang tinggi hanya numpang lewat didepan orang pendek, sudah merupakan suatu hinaan, padahal tidak ada niatan untuk menghina.

Kalau saja kehidupan untuk orang lain yang kita berikan adalah kebaikan.. Untuk orang lain bukan menampilkan apa yang kita punya, apa yang kita bisa, dan apa yang kita mengerti kepada orang lain. Namun apa manfaat atau kebaikan kita terhadap orang lain. Sama2 hidup untuk orang lain, yang satu berdampak kesenjangan, yang satu berdampak ketentraman.

rasa puas terhadap kepemilikan tidak akan pernah berhenti, sampai mulut kita tersumpal tanah (Baca: meninggal). Alangkah baiknya kita tafsirkan kehidupan ini sesuai dengan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan. Bagaimana kita bisa disebut kholifah dikalau memberikan rahmat ke sesama manusia saja masih ragu.

Untuk itu Tuhan ku Yang Maha Hidup..

rahmat Mu tidak akan pernah putus sampai kami memutusnya.. Maka jagalah tangan kami agar senantiasa berpegang teguh terhadap tali rahmat Mu

Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: