Kenapa harus aku..??

Kenapa harus akuUngkapan diatas pasti terucap dikala kita merasa tidak mampu dengan tugas, atau beban yang diberikan. Atau mungkin suatu sangkalan saat kita merasa tidak ada yang mau menolong, tidak ada orang yang peduli dengan kita, ingin diungkapan tapi nanti malah jadi beban buat orang lain. Tidak ingin menjadi beban buat orang lain, itu juga merupakan suatu beban.Ya benar..memudahkan orang lain itu beban buat kita, apabila kita sendiri tidak sanggup untuk menjalaninya dengan mudah. Mudah itu juga beban, apabila mudah itu diketahui setelah kita merasa susah. Terus kenapa ini semua harus di emban? Apa gunanya ?  kenapa beban ini terasa berat ? aku sudah tak sanggup lagi untuk menahannya ? meletakannya ? tidak mungkin, karena itu nanti juga jadi beban, terus bagaimana agar kita lepas dari semua beban ?

Kehidupan ini mungkin suatu beban, yang benar… Beban yang digunakan untuk memenuhi timbangan,  suatu timbangan akan memperlihatkan suatu ukuran sesuai dengan beban yang di timbang. Sekarang coba sisihkan perhatikan sedikit. Ukuran itu dilihat berdasarkan beban. Semakin tinggi nilai ukuran bebannya pun semakin berat. Logika sederhana, kehidupan mempunyai nilai dan ukuran, apa yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menilainya. Itulah beban, karena tidak mungkin kita mengetahui suatu nilai tanpa di ukur atau ditimbang. Semakin berat beban semakin tinggi atau besar nilai kehidupan. Semakin tinggi kualitas kehidupan, berarti beban yang di tanggung juga semakin berat. Terus bagaimana kalau kita tidak mampu untuk menahannya ? ini terlalu berat ?

Tidak mungkin jadinya bila, suatu ukuran ditentukan tanpa adanya beban yang sesuai. Kita tidak akan tahu berat beras itu 1 kwintal atau 1 ton tanpa adanya beban untuk menimbangnya. Dari mana orang tahu suatu ukuran tanpa diciptakan suatu alat ukur? dari mana orang tau berat kehidupannya atau suatu permasalahan tanpa beban yang sesuai untuk menimbang ? ini yang lah memuat kita salah sambung. Terkadang kita membuat alat ukur sendiri untuk menimbang, sehingga apabila beban atau mungkin pemberatnya tidak sesuai maka terasa berat sebelah. Beras 20 Kg di timbang dengan pemberat 2 Ons, seimbangkah ? itu yang membuat beban kita terasa berat, atau mungkin tidak kuat untuk menampungnya. Terus bagaimana ?

siapa yang menentukan nilai kehidupan atau yang menimbang, itulah yang lebih tahu tentang seberapa beban kita, tidak mungkin sekarung beras bisa mengetahui berat dirinya sendiri. Tanyakan pada yang punya beras atau tanyakan pada yang menimbang, tanyakan pada pencipta kehidupan, karena ia lebih tahu akan diri kita dari sudut pandang lain. Terasa berat itu karena kita melihat timbangan lain, Dimana kiat lihat seolah-olah bisa seimbang. Kuncinya adalah Sabar dan Terus menyeimbangkan. Itu yang membuat nilai kita konstan meski beban yang di emban semakin berat. Allah tidak akan memberikan beban yang tidak sesuai dengan kita. Karena Ia tahu berapa berat kualitas kita. Sekarang tinggal kita, mau mengurangi kualitas atau nilai kita atau malah menetapi dalam kesabaran dan penghaparan ?. Beban itu sewajarnya dan kewajaran. Semua tergantung cara pandang kita dan bagaimana kita menyikapinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: