CINTA DI BATAS ADZAN (sebuah cerpen)

Angin berhembus dengan lembut, membawa harum bau laut yang segar dengan khas birunya. Menatapi indah penuh keluas samudra, membuat hati ini menjadi damai dan cemas akan hadirnya. Duduk menghadap dengan rasa sedih dan penuh Tanya, kenapa aku ada, kenapa aku diciptakan, membuat aku tunduk menghadap pasir dan menulis diatas nya dengan potongan ranting kecil.

“Assalamulaikum Amir..!!”, segeranya kaget dan menghapus tulisan pasir yang baru dibuatnya.. “Bengong aja sendirian, Kamu liat nyi roro kidul mandi”?? canda Zahra seorang perempuan yang hadir dengan dengan senyum keceriaan yang membuat hati ini lupa akan rasa yang tadi datang.

“Waalaikum salam… Ye.. mana mungkin Nyi Roro kidul perlu mandi, karena ia kan bernafas pake insang”.

“Tu bukan Nyi Roro kidul tapi ikan pesut…” Canda Amir lagi

saling melempar canda dan gurau, membuat aku mengerti bahwa teman itu adalah hal dapat mengusir kegalauan. Teman yang baik itu hadir saat kita sedih, bukan hanya saat kita senang aja. Zahra adalah teman ku dari SD, sejak kecil maen bareng, dan sekolah pun satu kelas. Namun karena ia anak orang berada, Ia beruntung dapat melanjutkan ke jejang pendidikan tinggi.

“Heh… Kamu kenapa lagii..?? udahlah…. kata-kata bapak mu itu jangan diambil ati, namanya juga orang marah, pasti yang keluar sejadinya dech…”Melihat raut muka ku yang tidak bisa kusembunyikannya, akhirnya aku curhat juga “entah lah.. sebenarnya pengen sich masa bodo tantang hal itu, tapi kalau aku liat kebelakang, membuat kau bertanya-tanya akan kebenarannya”.

“Udah lah.. Kamu percaya ke aku… kita kan dah temenan dari kecil kan??”

Sedikit hatinya terhibur atas ungkapan Zahra. Amir menjadi lega. Kejadian kemarin memang tidak bisa terlupakan. Selama ini memang orang tua ku mendidik dengan sangat keras. Bekerja sebagai buruh tani dan serabutan sudah ku lakukan sejak duduk di kelas 2 SD. Namun setelah kejadian kemarin dimana aku mengatakan kepada bapak bahwa aku ingin melanjutkan lagi bersekolah, terjadilah perdebatan. Aku tahu karena kondisilah, aku tidak bisa melanjutkan, tapi aku yakin bahwa Di setiap kemauan pasti ada jalan. Allah akan memudahkan jalan bagi orang yang menuntut ilmu.

Namun saat perbindangan semakin memuncak, tiba-tiba muncul perkatan tak terduga

“Kalau kamu memang sudah bosan hidup dengan kondisi kami, kembali dan cari orang tua mu…”

Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar dalam gelapnya malam, miris dan menyayat hati. Tak kusangka perlakukan keras bapak selama ini pada ku bukan untuk mendidik atau memandirikan aku, namun mungkin aku bukan anak kandungnya.

“eh Zahra.. mumpung kamu disini aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu”. Melihat tiba-tiba temannya ini serius. Zahra memandangnya dengan penuh rasa cemas. Merasa takut karena kejadian tersebut merupakan pukulan berat baginya.

“Kamu dah kenal aku dari dulu kan?? Disini aku ingin menyampaikan terima kasih banyak, atas segalanya. Mungkin ungkapan ini ndak bisa tegantikan dengan apa-apa yang dulu kita pernah bagi. Bagiku kamu adalah sahabat terbaik ku” Mendengar perkataan tersebut Zahra tahu bahwa ini merupakan suatu ungkapan perpisahan. “Aku akan merantau ke Jakarta, untuk bekerja dan menuntut ilmu, mungkin dalam rentan waktu yang agak lama. Lagian kamu pun juga akan kuliah ke kediri juga kan??”.

“Terus Disana kamu mau tinggal dimana??” tegas Zahra dengan cemas.

“Aku yakin Allah kan memberi pertolongan, lagi pula niat ku kesana untuk menuntut ilmu, bukankah tiap langkahnya akan dimudahkan. Aku yakin akan hal itu”.

Mendengar hal tersebut tak terasa mata Zahra mulai berkaca-kaca, iapun menunduk renung. Melihat hal tersebut amir berkata.

sunset“Aku titipkan indahnya pantai pacitan ini dan megahnya matahari tenggelam itu pada mu. Semoga dengan apa-apa yang kita harapkan Allah kabulkan. Semoga impian mu Menjadi nyata dan Allah Ridhoi..“

“Salam kepada Bapak dan ibu mu.”

“Assalamulaikum…”

Kata terakhir amir pada Zahra.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Adzan Magrib pun berkumandang. Menambah kecilnya diri ini saat melihat tenggelamnya matahari di pantai pacitan. Aku meninggalkan Zahra tanpa menoleh kearahnya lagi. Karena aku tahu, ketika aku melihat kesedihannya, itu adalah halangan yang membuat aku berat melangkah. Sesungguhnya aku mencintainya lebih dari sahabat. Hati ini sudah tidak bisa dibohongi, ia selalu bisa menghadirkan kegembiraan dalam hati.

“Maafkan Zahra, aku pergi untuk mencari jati diri dan ilmu agar hidup ini lebih baik” Kata ku dalam hati .

Aku pergi merantau ke Jakarta, berharap banyak hal yang bisa ku dapat disana. Aku berpamitan kepada kedua orang tua ku. Meski aku tahu bahwa merak bukan orang tua kandung ku. Namun meraka adalah sosok yang telah memberikan aku kehidupan dan banyak pelajaran. Aku berpamitan dan meminta restu kepada mereka. Entah kenapa mereka pun terasa berat melepas ku.

“Nak.. ini ada sedikit bekal buat kamu… kamu sudah ku anggap anak ibu sendiri, semoga dalam pencarian mu, Allah memberi kemudahan” ungkap ibu ku, bu hanif. Tak kuasa menahan iapun memeluk erat diriku sambil tersedu.

“Amir.. ini adalah alamat orang tua mu di jakarta.. Maafkan bapak atas semua perlakuaan bapak selama ini” Wajah bapak yang keras dan tegas sejenak berubah. Aku pun memeluk dan mencium tangannya.

“Tidak bapak.. Amir lah yang seharusnya minta maaf, karena tidak bisa memberikan kebahagiaan bagi bapak ibu berdua, Meski begitu bapak ibu tetap ikhlas dalm member kehidupan kepada saya. Apapun yang terjadi bapak ibu adalah orang tua saya. Saya adalah anak Bapak Anton dan Bu hanif, dan saya bangga hidup bersama mereka”.

Aku pun berpamitan dengan mereka. Aku yang dari kecil sudah disini bersama keluarga yang aku cinta, teman-teman yang selalu ada, auh terasa berat kurasa. Terutama Zahra,

“maaf Zahra aku tidak hanya bisa mengungkapkan perasaanku, karena aku takut engkau akan menjauh, biarkan kita tetap jadi teman saja. Meski hati ini serasa sakit, namun dalam diam doa ku panjatkan, agar Allah mendamaikan hati ku. Dimana Cinta ku padamu tidak akan melebihi cinta ku pada-Nya”.

Di jakarta, memang aku harus bekerja ekstra. Dalam riuh kerasnya kehidupan ibu kota. Membuat aku harus banyak melatih kesabaran dan kesyukuran. Bekerja sebagai cleaning service di suatu perusahaan multi nasional adalah hal yang sangat luar biasa. Dengan gaji yang Alhamdulillah bisa membiayai hidup di sini. Disela-sela kerja aku sempatkan untuk kuliah. Karena kerja sebagai cleaning service hanya dilakukan sebelum karyawan lain masuk dan setelah jam kerja karyawan usai. Aku ambil kuliah di STMIK swasta di daerah kemayoran. Terkadang ada jadwal kuliah yang masuk malam juga. Capek dan penat. Terkadang terbesit dibenak ku. Namun tak mengapa karena ini demi kehidupan yang lebih baik.

Kusempatkan mencari alamat yang telah di berikan bapak dulu. . Tanya kesana kemari tidak jua di temukan. Menelusuri jalanan kota Jakarta yang terkenal kerasnya, membuat muncul rasa rindu akan kampung halaman. Khususnya pada senyuman Zahra. Dimana senyumannya selalu mendatangkan obat bagi lelah dan resah ku

“Ya Allah… beri Hamba petunjuk.. Tiada daya dan upaya kecuali atas kuasa Engkau., Hamba hanya ingin mencari kebenaran atas diri hamba. Meminta maaf kepada orang tua kandung hamba” adalah doa dalam setiap simpuhku.

Tak terasa sudah 4 tahun aku di ibu kota. Alhamdulillah aku sudah lulus D3 ilmu Komputer. Sekarang aku sudah bekerja sebagai staff pengajar SMK Bhakti Mulia di daerah Pasar Minggu. Janji Allah memang benar, Bahwa Allah akan mempermudah dan memuliakan jalan pagi para penuntut ilmu. Disela kesibukan aku sempatkan untuk mengikuti majelis taklim di masjid tempat aku tinggal. Alhamdulillah aku juga diberi kepercayaan untuk menjadi ta’mir masjid.

“Alhamdulillah ya Robb atas berkah nikmat Mu ini, jadikanlah ilmu ini lebih bermanfaat lagi“

Meski begitu aku pantang menyerah untuk mencari apa yang dulu pernah jadi tujuan ku datang ke Jakarta. Berusaha dan Berdoa hanya itu yang bisa kulakukan. Aku percaya bahwa niat ku ini baik dan Allah akan mempermudah. Sempat ada sedikit titik terang, bahwa yang pernah tinggal di alamat tersebut, pulang ke daerah asalnya pacitan, namun sekarang sudah ganti pemilik rumah.

Sudah hampir 5 Tahun aku mencari, mungkin Allah belum memperkenankan untuk bertemu dengan orang tua kandungku. Atau mungkin Allah mengarahkan ku agar berbakti kepada bapak dan ibu di pacitan. Pasti beliau sangat rindu. Sudah selama ini aku merantau, juga belum kasih kabar sama sekali. Aku niatkan syawal ini aku akan berkunjung ke Pacitan.

“Mumpung ini pas bulan Romadhon, aku memohon pada Mu Ya Robb.. kalau engkau Ridho dengan kondisi hamba sekarang, maka ikhlaskan aku. Jika Engkau tidak Ridho mohon beri hamba petunjuk”.

Selepas sholat magrib di masjid. Aku duduk di serambi bersama rekan ta’mir yang lain, guna membicarakan tentang kegiatan malam lailatul qodar sambil berbuka puasa. Karena pada sepuluh malam terakhir romadhon akan banyak kegiatan, khususnya kegiatan iktikaf.

“Mencari Mas Amir ya…?? Itu di serambi depan mbak… ” suara salah satu jamaah

Sedikit tidak asing dangan suara perempuan itu dan mendengar nama ku disebut, akupun menoleh kearah obrolan itu.

Tak kusangka, dirumah Allah ini, aku melihat lagi senyum yang dulu menyembuhkan, indahnya mata yang ada dalam tiap pejaman. Aku bertemu kembali dengan sahabat karib ku yang sekaligus orang yang menolehkan hati ini pada cinta. Zahra, tampak lebih cantik dengan hijab panjang dan khimar biru muda, Ia terlihat lebih dewasa dai saat kita berpisah dulu.

“Zahra.. ini benaran kamu…” tanya ku kaget

“Assalamulaikum Amir… datang ku selalu mengagetkan mu ya…” Canda Zahra

Mendengar hal itu Amir jadi ingat saat terakhir kali bertemu dengannya.

Kami pun menelusuri jalan ibu kota untuk mencari hidngan buka puasa, karena perut ini hanya terganjal ta’jil, kami memilih untuk mampir di warung soto daging. Sambil menikmati hidangan, aku saling menanyakan akan kabar masing-masing, terlebih aku bertanya tentang keluarga di pacitan. Ternyata Zahra sudah lulus kuliah Strata 1 di Fakultas Ilmu pendidikan di Kediri dan mengajar di SMA negeri di pacitan. Sesekali aku mencuri pandangannya, karena aku masih menyimpan rasa membuat hati dan hidup ini lebih bermakna.

“Mir.. aku mencari mu, untuk menyampaikan pesan dari bapak kamu, Ibu kandung kamu sudah kembali ke pacitan dua tahun lalu, bapak kamu menceritakan semua hal, termasuk kepergian mu ke Jakarta untuk mencari beliau, mendengar hal itu, ibu kandung kamu sangat merasa bersalah. Beliau jatuh sakit, aku disuruh menjemputmu pulang” Ungkap zahra sambil meneteskan air mata

Mendengar hal tersebut, aku tertunduk,. Zahra menjelaskan perihal ibu meninggalkan ku dengan bapak di pacitan, asalannya yaitu untuk mencari penghidupan yang layak dan untuk masa depan anak semata wayangnya, yaitu aku, aku merasa menjadi anak yang tidak berbakti, sangat merasa bersalah.

Keesokan hari nya. Akupun segara kembali pulang ke pacitan. Aku pulang bersama dengan Zahra. Dalam berjalanan aku selalu di rundung rasa resah akan kebodohan dan kegoisanku. Selama ini ibu selalu mengirim uang ke bapak, untuk biaya sekolahku. Aku tak menyangka, semula ku kira aku hanya terbuang, ternyata aku adalah orang yang paling beliau sayang.

“Ya Allah, Ampuni Hamba atas prasangka Hamba yang lalu, Ampuni Dosa oang tua hamba, baik yang membesarkan hamba maupun melahirkan Hamba. Mampu kan Hamba untuk mencium kaki ibu hamba, meski hanya sekali” Doa ku dalam tiap perjalanan

Melihat raut kesedihan dan kecemasan diwajah di tiap perjalanan, Zahra mencoba untuk menghiburku dengan Candaan dan cerita saat dulu kita bermain bersama di Pantai. Aku ahu bahwa dialah satu-satu orang yang bisa mengusir gelisah dalam hati ini. Memang rasa ini sedikit berkurang, namun harap dan cemas masih ada dalam hati ini, di kalau belum sempat tangan ini memeluk kaki ibu.

Alhamdulllah alla kulli hal, kurang lebih 18 jam perjalanan di tempuh. Indahnya pantai pacitan sedikit mengobati keriduanku akan kampong halaman ini. Rasa dalam dada semakin memuncak ketika aku sampai pada gerbang masuk desa ku.

“Anda masuk Desa Sukomoro”. Ingin segera aku mencium kaki ibu ku dan meminta maaf atas semuanya. Sebelum sampai di halaman rumah aku melihat banyak orang berkerudung sambil membawa baskom berlalu lalang, aku pun keheranan. Zahra tampak menutupi mulut dan hidung dengan tangannya. Aku lihat ia meenahan tangis. Masih dalam angkutan, aku merasa ada yang tidak beres. Dirumahku terdapat bendera kuning dan ternyata orang yang kutemui dijalan tadi seperti dari sini. Tanpa menunggu lama aku pun turun dari angkutan, tak terasa air mata ini mulai menetes melihat jenazah yang sedang di sholatkan diruang tamu. Bu hanif memeluku, terlihat Bapak sedang menyolati jenazah tersebut. Tak kuasa aku menahannya. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Ingin aku buyarkan semua orang yang menyolati jenazah ibu. Aku ingin memeluknya, aku ingin mencium dan mencuci kakinya.

“Istighfar Nak.. Ikhlaskan ibu mu…” Peluk erat bu hanif, aku ingin lepaskan pelukkanya dan menuju jenazah ibu.

“Amir.. ikhlaskan semua… Ini sudah menjadi takdir Allah.. jangan engkau persulit langkah ibu untuk kembali kesisi-Nya, disanalah tempat kembali yang terbaik” kata Zahra sambil memelukku erat.

Aku kalut dalam kecewa, karena aku hanya bisa memberikan penghormatan dan kasih sayang terakhir ku pada ibu dengan menyolatinya dan mengantar jenazah beliau ke tempat istirahat terakhirnya. Diri ini masih tidak percaya, bahwa aku baru pertama kalinya melihat wajah ibuku saat beliau tenang dalam diamnya.

“Astaghfirullah hal Adzim.. Ya Allah… Maaf kan hamba belum bisa berbakti pada ibu Hamba”

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar…” Suara Adzan yang kudengar di pemakaman ibu. Dalam sedihku aku terus berdoa dan kecewa. Dalam sendunya semua orang disekitar ku. Aku melihat Zahra menangis sambil di peluk oleh seorang pria yang aku rasa itu bukan saudara maupun keluarga Zahra.

Semua orang mengucapkan bela sungka kepada ku, namun aku masih ingin berbakti pada ibu, meski do’aku ini tidak bisa menghapus kecewa dalam hati.

“Saya dan Istri saya turut berduka cita atas semua ini , Yang sabar dan ikhlas Mas Amir, Insya Allah Beliau mendapatkan Tempat Terbaik di sisi-Nya” Ucap Seorang laki-laki dibelakangku, ternyata ia yang tadi sedang memeluk Zahra. Zahra pun masih terisak di dalam pelukanya suaminya, terlebih saat ia melihat ku.

“Maafkan saya Amir.. karena Aku terlalu lama mencari mu, sehingga kamu tidak sempat bertemu dengan ibu kamu, sekali lagi aku minta maaf atas semua ini…”

Tangis Zahra semakin pecah, seketika ia pingsan, Suaminya meminta izin untuk membawanya pulang dulu.

Dalam kesendirian ku di atas pemakaman ibu aku merenung, bahwa dalam diamnya Cinta ada kebesaran Mu Ya Allah.. Hamba sangat mencintai ibu hamba, hamba juga sangat mencintai Zahra, namun Cinta Mu lebih diatas segalanya. Engkau lebih mencintai ku dan aku mencoba lebih mencintai Mu dalam kebesaran Mu.

–the end—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: