Peluklah Anna, Ayah ! (Sebuah Cerpen)

Dalam diam ku di ruang tunggu, aku melihat banyak orang berlalu lalang. Kelihatan sibuknya akan urusan masing-masing, seolah-olah aku berada dalam pulau tak bertuan, padahal sekelilingku penuh kebisingan. Terdengar dengungan mesin pesawat yang akan take off, membuat aku menatap kelangit, aku bergumam, “Akankah hidup ini kan berubah setelah ini”. Hembusan Nafas panjang ku disertai dengan harap, bahwa penghargaan ini patut untuk aku syukuri.

 

“Na… Anna… Kamu ngelamun ya..??” Sapa Naura. Seketika hilang sudah perasaan ini saat melihat wajah manisnya.

“He.he.. Ndak koq.. ndak nyangka aja bisa sampai sejauh ini. Aku cuma bersyukur aja atas segala yang Allah berikan” jawab Anna Kepada sahabatnya.

 

“eh tau nggak, tadi aku ketemu cowok ganteng loo di mushola, keliatannya ia juga seorang penulis yang ikut acara writing camp dech.. soalnya di juga pake ID Card yang sama kayak kita.. ih.. jadi gregetan banget… dah ganteng, alim, penulis pula… ia tadi jadi imam juga di mushola bandara, bacaan sholatnya.. An.. Subhanallah…. merdu banget…”

 

“haduh.. ra.. Jangan-jangan kamu ndak khusyu’ lagi waduh..waduh.. sekalian aja jadiin dia tokoh novel deskipsi mu dech, detail banget sich kamu kalo ngobrolin cowok”

 

lagi asyiknya bercanda dengan Naura… tiba-tiba terdengar salam seseorang dari belakang.

 

“Assalamulaikum… Benar Anna Naila ya…”

 

“Waalaikum salam.. iya Benar..” Jawabku sambil menengok kearahnya.

 

“Selamat ya atas prestasinya.. Karya kamu memang pantas jadi juara”

 

“Terima Kasih.. Semoga bisa lebih bermanfaat lagi, kak Fadil ya… Karya kakak juga hebat koq, saya hanya beruntung saja kak”

 

“Eh. Na ini dia yang aku citain tadi, btw koq kamu kenal dia sich…” bisik Naura lirih di pundak ku, sambil dia tesenyum sapa malu pada Fadil.

 

“Kamu kamu gimana sich.. dia kan Kak Fadil, Juara II di Writing Camp dan dapat penghargaan essai terbaik, Haduh.. ra..ra..”

 

“Iya toh.. waduh.. maaf kak Fadil.. saya cuma peserta bawang disini. Saya ikut pun karena ada Anna, biar dia ada yang jaga in dan ndak macem-macem”. jawab sekenanya Naura. Padahal ia sudah kepalang malu.

 

Di kanada kami mengikuti Wrting Camp yang diselangarakan oleh fakultas sastra univesitas Indonesia bekerjasama dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Negara. Kami di dipilih atas essai yang kami kirim. Terpilihlah 15 orang untuk mengikuti writing camp di universitas Toronto.

 

Hari-hari ku disana kuisi dengan pendalaman materi tentang sastra, outbound kepemimpinan dan lomba menulis essai. Muhammad Fadil Azzami. Seorang penulis yang hebat, karyanya mampu menenggelamkan hati penikmat sastra, tak hayal jika ia mendapatkan juara. Meski aku mendapatkan penghargaan tertinggi, berkompetisi bukanlah tujuan ku. Karena pengakuan ku bukan pada piala ini.

 

“Belum di jemput ya.. kurang lebih sudah 2 jam kan kita landing ?” Tanya Fadil

 

“Belum kak.. ini masih nunggu ayah.. mungkin beliau masih di kantor”

 

“Sekalian aja barengan mobil saya, Di jalan Sudirman 15 B kan ?” Aku kaget, ternyata dia tahu betul alamat rumah ku. Mungkin karena data peserta oleh panitia di pajang di depan papan pengumuman pada waktu di camp.

 

“Ndak usah kak, terima kasih banyak, biar di jemput ayah saja. Sekalian ingin menunjukkan ini” Jawabku sambil tersenyum dan memegang piala ku.

“baik lah.. kalau begitu, saya duluan ya.. Semoga kita bisa bertemu kembali.. Assalamulaikum…”

 

“Waalaikum salam.. Iya Kak.. terima kasih dan maaf sebelumnya”

Jawabku.

 

Kak Fadil tampak masih melihat ke arahku, meski ia sudah berada didepan mobil jemputannya. Aku tersenyum padanya Untuk menandakan bahwa aku kan baik-baik saja, Juga sebagai rasa terima kasih dan maaf atas penolakanku akan tawaran baiknya.

 

“kamu gimana sich Ann.. Mau dianter cowok ganteng ndak mau. Waduh..2x.. lagian aku tahu, pasti kamu nanti pulang naik taksi kan ?”

 

Mendengar perkataan Naura. Hati ini kembali kalut. meski aku sudah meraih seperti ini, Ayah pasti tidak menghargaiku. Semenjak kecelakaan itu. Ayah berubah, hanya bisa menyapa, itupun hanya seperlunya. bahkan aku lupa rasa nya dipeluk ayah. Aku sudah kehilangan ibu dalam insiden itu. Tapi kenapa aku seperti anak yatim piatu. Astaghfirullah ya Robb.. Ampuni Prasangka Hamba ini…

 

“Ya Allah.. Maaf An.. aku ndak bermaksud untuk menyakiti hati kamu. Maaf kan perkataanku tadi”

permintaan maaf Naura setelah melihat mataku mulai berkaca-kaca.

 

“Ndak pa ra.. memang benar koq. Aku kan pulang naik taksi.. ndak mungkin ayah akan menjemput ku, lagian ini kan hari senin. Ayah pasti sangat sibuk…”

 

“Kamu mau nemenin aku naik taksi kan Ra..?? kamulah satu-satunya yang aku miliki dan mengerti diri ini, aku merasa bersalah atas semua ini” Ungkapku dalam tangis yang tidak bisa aku bendung lagi.

 

“Sudah lah An.. kamu jangan menyalahkan diri mu terus.. kecelakaan itu sudah kehendak Allah, Semua sudah tertulis dalam lauhul mahfudz. Berprasangka Baik sama Allah.. Lihat lah yang sudah kamu dapat. Kamu seorang penulis hebat. Juara I Wiriting Camp pewakilan Indonesia. Ini adalah Anugrah yang harus kamu syukuri”

 

aku menangis dalam pelukan sabahat ku Naura. Pelukan Naura membuat hati ini tenang. Alhamdulillah, aku punya sahabat yang selalu ada disisi ku dalam kondisi apapun.

 

“Terima kasih banyak ya Ra.. kamu memang sahabat terbaik ku.” Ungkap ku pada Naura

 

“Sudahlah.. hapus air mata itu.. kamu cooling down disini aku tak cari taksi dulu ya.. tolong kamu jaga barang bawaan kita”

 

“Ndak ra.. Gantian napa, tadi kan kamu dah pergi untuk cari makan dan aku nunggu barang kamu disini, masa sekarang aku lagi yang harus nunggu, ntar kamu lagi yang ketemu pemandangan indah..”

 

“ehem.. rupanya ada yang terpesona dengan penulis essai ganteng ini” Canda Naura untuk menghiburku.

 

aku pun pergi untuk mencari taksi. Dalam pencarianku, aku melihat seorang anak yang jatuh dan menangis di tepi trotoar bandara. Aku pun Segera menghampirinya.

 

Dalam kursi tunggu Naura menanti sambil makan snack.

 

Dreet..Dreet…2x

 

“Loh ini kan HP Anna.. aduh.2x anak ini ceroboh banget sich.. masa’ hape di biarin tergeletak kursi tunggu gini”

 

Ternyata yang menelpon adalah Ayah Anna, tanpa berpikir panjang naura mengangkat HP itu.

 

“Waalaikum salam, maaf om Anna sedang pergi untuk memanggil taksi, Alhamdulillah kami sudah sampai di bandara 2 jam yang lalu” sekilas percakapan naura dengan Ayah Anna.

 

setelah percakapan berlangsung selama 5 menit. Terlihat wajah cerah dan senyum indah di wajah Naura.

 

“Alhamdulillah Ya Robb.. terima kasih.. Aku harus menyampaikan ini ke Anna. Ayahnya akan menjemput dan memberikan hadiah atas prestasinya”

 

Segeranya ia pergi untuk mencari sahabatnya itu. Tak sabar bahwa segala macam keluhnya akan segera sirna atas kabar yang ia bawa. Terlihat pada suatu titik ada banyak kerumunan disana. Sepertinya ada kejadian yang menyita kesibukan dari bandara tersebut. Saat Naura ingin menuju kerumunan tersebut, tiba-tiba ada yang menegurnya dari belakang

 

“Naura.. Anna dimana??”

 

“Eh Om.. sudah sampai ternyata. Ini saya mau mencarinya. Tadi ia pergi untuk mencari taksi buat kami. Keburu nanti ia dapet taksi kan sayang harus bayar tanpa naik.. he..he..” Jawab Naura kepada Ayah Anna.

 

“Ada apa yaitu, banyak sekali orangyang berumun disana ?” Tanya ayah Anna kepada Naura penasaran.

 

“Maaf om saya juga kurang paham”

Merasa penasaran kerumunan tadi, Naura mendekatinya dan bertanya kepada salah satu orang

 

“Permisi Bapak. Ada pa ya itu? Kok banyak orang berkerumun??”

 

“kecelakaan nak.. tadi ada gadis yang ingin menolong anak kecil yang jatuh di trotoar. Tak sangka tiba-tiba datang mobil avanza dari arah berlawanan dan menabraknya. Seketika itu ia jatuh tak sadarkan diri” Tegas bapak itu.

 

Merasa perasaannya tidak enak. Naura dan Ayah Anna lebih mendekat kearah kerumunan itu. Tak disangka bahwa itu adalah sahabatnya Anna yang sudah bersimbah darah. Tak kuat menahan rasa Ayah Anna pun menangis sejadi-jadinya. Serasa tak percaya dengan apa yang dilihat, Naura Langsung jatuh pingsan.

 

Segeranya Anna dibawa kerumah sakit. Dalam perjalanan dalam ambulance Anna sempat sadar.

“Ayah.. Ayah datang untuk menjemput Anna kah?”

 

“Iya nak.. Ayah disamping mu selalu.. Maafkan Ayah ya” jawab Ayah Anna sambil meneteskan air mata, dimana ia melihat anak semata wayangnya tergolek lemah bersimbah darah.

 

“Ndak Yah.. Anna yang minta maaf, sudah membuat ayah bersedih seperti ini”

 

Suara sirine ambulance yang memecah jalan. membuat Ayah Anna terus memeluknya dalam harap dan cemas. Yang di pikirkan hanya anaknya agar segera dapat pertolongan.

 

“Alhamdulillah… Impian Anna sudah menjadi nyata, terima kasih Ayah telah menjemput Anna. Maaf ayah.. Anna belum bisa membuat ayah bangga.” jawab Anna dalam lemahnya

 

“Sudahlah nak jangan berkata seperti itu. Ayah selalu bangga terhadap kamu”

 

Anna sempat dibawa ke RSCM. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Anna Naila Azzahra meninggal dalam pelukkan Ayahnya. Dimana Ia tenang dalam senyumnya saat impiannya menjadi nyata, Yaitu di peluk oleh Ayahnya.

 

–The End–

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: