Indah Diamnya Cinta (Sebuah Cerpen)

Menatap detik jam seakan membuat hati ini sempit. Meski semua ini sudah terjadi, namun waktu yang akan mudah menjawabnya. Ruang tunggu ini sudah sunyi, serasa seperti berdiam di tanah tak bertuan. “Ah.. sepinya ruangan ini tak sebanding dengan sepi hati ini”. Bau khas obat serasa semakin membuat aku cemas akan keadaan anak itu. Sudah dari kemarin, saat aku sedang piket malam, seorang laki-laki dengan nafas yang terengah-engah sedang membopong anaknya yang terkulai lemas dan hidungnya mengeluarkan darah. Gadis manis yang tak nampak rasa keluhan akan deritanya, Ia sabar dalam senyumnya

UGD jam 01.00 dini hari.

Melihat kedua orang tua tersebut penuh harap dan cemas akan keadaan anaknya. Aku yang bediri seharusnya tegar, melihat untaian-untian kalimat tahlil dan yasin yang dibacakan oleh ibunya, tak kuasa aku menahan rasa. Akhirnya menetes juga peluhku. Mendengarkan bacaan kasih sayang ibunya, senyum kecil pun muncul pada gadis itu. Mungkin itu senyum ketenangan atau mungkin senyum akan penggambaran bahwa ia kan baik-baik saja. “Ya Allah.. kuatkan mereka akan semua ini”.

UGD jam 06.00 pagi.

Nadhifa namanya, aku melihatnya pada rekam medis yang tergeletak di meja. Entah kenapa ada banyak pasien, namun hanya gadis itu yang menyita perhatianku. Tidak hanya selang oksigen yang terpasang di hidungnya, infus dan berbagai macam peralatan menempel di tubuhnya. Elektrokardigram berbunyi lambat. Dapat disimpulkan bahwa kondisinya sedang kritis. Kanker paru-paru yang disandangnya, tak membuat orang tuanya putus asa untuk terus berharap kepada Tuhan. Bahwa dalam Ke Maha Besaran-Nya pasti ada cinta dalam segudang derita. Melihat ibunya tetap tegar meski ada sesak nafas di dada. Dan yang membuat aku kagum, adalah kemampuan untuk saling menguatkan pada keluarga kecil tersebut. Bagaimana yang sakit bisa memberikan kekuatan untuk yang sehat begitu pula sebaliknya.

UGD jam 10.00

Semua tenaga medis menuju ke bilik Nadhifa. “Bagaimana statusnya..??” “lemah dok…” “Ambilkan Defibrillilator.. Sus…”. melihat muncul kembali darah di hidung dan di selang oksigennya. Segera aku ambilkan alat pengejut jantung di lab. Tanpa pikir panjang segera di tempelkan Defibrillilator di dada Nadhifa. “

“Clear…” Kejutan pertama… “bagaimana kondisinya..??” “Flat dok…” Kejutan kedua.. “Masih Flat dok..” Kejutan Indah Diamnya CintaKetiga… Dokter menarik nafas panjang kemudian mengelengkan kepala. “Laa ilahaillah….” Pandu ibunya yang terus berada disamping. ”Muhammad Rasulullah….”

“Laa Ilahaillah, Muhamad Rasulullah…” terdengar jawaban sayup-sayup lirih suaranya

UGD jam 12.00 tepat adzan Dhuhur..

Nadhifatul Hikmah tenang dalam senyumnya.. Tangispun pecah di antara keluarganya.. “Alhamdulillah…” Namun ada yang sedikit aneh yang ku lihat dari ungkapan ibunya tersebut. Seolah-oleh ada rasa bahagia terselip dalam duka.

“Yang sabar ya Ibu… Semoga Nadhifa bahagia dan tenang disana” ucap bela sungkawa ku.

“Terima kasih nak… Nadhifa memang anak yang baik dan tangguh, dia tidak penah mengeluh, walaupun sudah sakit sejak umur 2 tahun.  Tak sekalipun membuat hati kami kecewa meski hal itu adalah rasa yang mengkhawatirkan keadaannya”

“Dhifa sudah sangat bahagia karena bapak ibu sudah memberikan kehidupan buat dhifa, Insya Allah bapak dan ibu mendapai ku sebagai orang-orang yang sabar” itu adalah kata-kata Nadhifa yang membuat orang tua terus kuat dan menguatkan.

Tiba-tiba tercium aroma harum di sini. Padahal aroma rumah sakit biasanya lebih kental aroma obatnya. Ternyata berasal dari tubuh Nadhifa.

“Aku semakin yakin ini adalah pembuktiannya,  bahwa semua ini merupakan indah diamnya cinta Mu.. “

“Ya Allah…., Engkau memang Indah dalam skenario hidup. Dalam diamnya Gadis ini, Engkau menebarkan butir-butir cinta pada kami. Sehingga kamu sadar akan keadilan Mu itu bukan sama rata”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: