Cinta Tak Berbalas..?? (Sebuah Cerpen)

Pagi itu aku melihat dua insan yang membuatku terus bertahan hidup. Aku antar mereka dengan penuh harapan dan doa ke depan rumah.

“Assalamulaikum Bunda… Angga berangkat dulu”

“Hati-hati ya nak, semoga ilmunya bermanfaat..”

perlahan namun pasti akhirnya kedua anakku meninggalkan teras dengan mengayuh sepedanya.
Penuh tawa dan semangat kecuali si bungsu, Lulu. Mungkin karena sepatunya yang sudah mulai mempunyai celah di bagian depan. Namanya anak perempuan pasti tampilan adalah hal utama. Belum lagi tentang si sulung, Angga. Meski ia lebih bisa mengerti keadaan namun sistem pendidikan yang ternyata tidak bisa di kondisikan. Bagaimana setiap periode selalu membeli buku pelajaran yang baru. Yang menurutku isinya sama saja dari dulu.

Belum lagi masalah keperluan sehari-hari. Dimana orang hidup butuh beras dan hal lain yang menunjang agar perut ini terus terisi. Untung saja warung ibu Patmi selalu bisa mengerti kondisi. Terkadang aku pun harus memasang muka tebal untuk melunasi hutang belanjaan yang lalu sambil menggali lubang lagi untuk keperluan hari ini.

Serasa pagi ini bagaikan sore hari, Duh terasa berat hari ini. Namun aku yakin pasti ada jalan untuk masalah ini. Segera ku putar otak dan mulai mencari dari sudut ke sudut rumah, sekiranya barang apa yang bisa aku gadaikan agar senyum kembali terurai di kedua wajah mutiara hidup ku.

Sialnya, tak satu pun sesuatu  bernilai yang bisa aku temukan. Aku duduk di kursi ruang tamu. Menghela nafas panjang. Saat ku tundukan pandangan aku cincin cintamelihat tangan ku. Kulihat cicin pernikahanku.

“Maaf mas Fahri.. bukan berarti saya ndak sayang.. tapi ini semua demi anak kita” tangisku ku dalam hati serasa tak daya lagi apa yang harus diperbuat.

Bergegas aku menuju ke kantor pegadaian. Suasana tampak riuh dan ramai. Tampak antri berjejer orang-orang yang penuh harap akan kepentingan masing-masing.

“115.. nampaknya hari yang akan panjang” aku berdiri melihat sekeliling seikranya ada tempat duduk ntuk memberikan hak pada kaki ini.

“Dapet nomor berapa Neng ?”

“115 ibu… ”  ku lihat seorang nenek yang berdiri sambil memegang pilar kantor.

“tolong ambilkan nomor antrian Neng.. nenek, susah jalan, takutnya nanti jatoh” pinta nenek itu

“ini nek pakai saja…” entah bagaimana aku memberikan nomor antrean ku. Aku mungkin merasa iba atau mungkin merasa tertipu. Yah sudahlah… mungkin karena ketidakmampuan ku untuk membedakan mana yang permintaan tulus mana yang permintaan palsu. Itulah manusia dalam prasangka baik selalu di iringi dengan prasangka buruk.

Aku ambil nomor lagi, dan Alhamdulillah dapat nomor 135. Saat duduk menunggu panggilan kulihat banyak ibu-ibu yang mendominasi. Melihat hal tersebut, hati ini sedikit terobati

“Mungkin aku tidak sendirian yang mengalami masalah ini ” kata ku dalam hati.

“kalau bukan karena menantu ku, tentunya saya sekarang tidak disini ini bu…, Sudah ku bilang pada anak ku, nikah itu jangan cuma mengandalkan cinta. Akhirnya ya gini ini, saat anak saya hamil tua, mantu saya belum punya pekerjaan, akhirnya ibunya yang kelabakan.”

Mendengar obrolan tersebut aku pun menengok kearah kursi belakang.

“Memang kita harus mikir bibit, bebet dan bobotnya bu sebelum menikah”  sahut ibu yang memakai gelang-gelang emas berderet yang duduk disebelahnya. Aku tak mengerti mengapa ibu tersebut ada disini meski banyak nikmat yang berderet di kedua tangannya.
Entahlah, mungkin dia juga memiliki masalah yang sama dengan ku, aku juga tak tahu.

“kalau Neng.. masalahnya apa ?” pertanyaan ibu itu seolah-olah menandakan bahwa semua orang yang datang disini adalah orang yang bermasalah.

“Untuk biaya sekolah Anak saya bu…” jawab ku sambil senyum menyembunyikan mirisku.

“Memang biaya pendidikan semakin hari semakin tinggi, anak saya yang kedua juga bu, tiap semester untuk membutuhkan biaya 8 juta, itu pun belum biaya kos, makan dan lain-lain. Nanti pun kalau sudah lulus belum jelas penghasilnya”

mendegar pernyataan tersebut, semakin membuat aku heran tentang keberadaan ibu ini disini. Memang kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Boleh jadi apa yang nampak tidak seperti apa yang dirasa. Kata orang jawa Urip kuwi sawang Sinawang

hiruk pikuk orang semakin siang semakin padat. Serasa semakin sesak juga ruang tunggu ini. Perut pun serasa melilit karena aku lupa dari tadi subuh belum terisi. Terasa lengkap sudah racikan kondisi hari ini.

“Kopi..2x teh hangat..2x nasi kuning…2x”

ku lihat bapak-bapak yang sudah cukup tua menenteng tremos  dan kantong kresek besar.   jalannya semakin susah, ditengah padatnya suasana ruang tunggu.

“Teh hangat ibu..?? nasi kuning juga ada.. murah koq 3500 saja, lumayan ibu buat ganjal perut”

memang perasaanku saja atau gimana, sepertinya bapak ini tahu betul kondisi ku.

“saya sudah sarapan pak, lainnya saja” jawabku sambil menahan perut ini yang tidak bisa diajak kompromi.

Sekilas aku merasa kasihan melihat bapak tersebut, terus mondar-mandir diantara tempat duduk meski penolakan itu pasti. Aku hanya bisa berdoa dalam hati

“Maaf bapak saya berbohong, karena saya tidak ada uang sepeser pun. Ya Allah.. mudahkanlah hari ini.. sehingga aku bisa segera memenuhi hak keluarga dan diri ini”

Sekian lama aku mendengar dan menunggu dalam ketidakpastian, akhirnya terdengar suara bisa memberikan ketenangan hati

“Nomor Antrian 135”

bergegaslah aku menuju loket penerimaan. Dengan penuh harapan dan sedih.

“Mau menggadaikan apa bu…??” tanya salah seorang petugas pada ku. Nampak betul bahwa dia siap menyelesaikan masalahku. Setelah menyelesaikan berbagai macam administrasi. Akhirnya aku peroleh uang 800 ribu.

“Maaf mas fahri.. bukan ndak sayang pada pemberian terakhir mas, namun saya yakin ini hanya perubahan bentuk cinta mas saja kepada kami. Ya Allah teguhkan hati hamba dan ampuni dosa suami hamba di alam sana”

butir-butir bening pun tak bisa terbendung lagi. Saat aku meninggalkan bagian kasir. Tiba-tiba mata ini serasa redup dan kulihat sekeliling ruang tunngu menjadi berputar.

“haduh ini karena aku tidak memenuhi hak pada perut ini pasti”.  Kecewa ku dalam hati.

“loh… kenapa neng, duduk sini dulu…” kurasakan tangan bapak penjual kopi tadi di lenganku, kemudian membantuku duduk di kursi tunggu yang masih kosong.

“Neng belum sarapan ya…?? ini neng di minum dulu”  tanpa tunggu lama aku teguk teh hangat itu. Bagai matahari terbit di tengah bukit yang menebarkan hangat setelah dinginnya malam.
“ini nasinya sekalian neng… biar sedikit ada energi” karena aku sudah pegang uang aku sambut pemberiaanya.

“Alhamdulillah… terima kasih bapak.. berapa semuanya…??”

“Ndak usah neng… uangnya buat anak-anak neng saja.. .” serasa bapak ini tahu betul akan kondisi ku.

“jangan begitu dong pak, bapak kan jualan, jadi suatu keharusan jika saya membayar apa yang saya makan dan minum”

“berikanlah kesempatan bapak untuk sedekah hari ini neng. Insya Allah, rizki saya masih cukup untuk hari ini..”

Aku merasa sangat malu kepada bapak ini. Penolakanku terhadap dia tadi berujung pada pemberian yang tulus kepada ku. Kata-kata bapak itu membuat hati ini tergugah, terlihat jelas bahwa dagangannya masih banyak. Namun beliau benar-benar optimis bahwa riski hari ini sudah terjamin.

“Ya Allah.. masih pantaskan hamba mengeluh pada Mu. Nikmat nama lagi yang Hamba Dustakan.. Astaghfirullah.. Ampuni prasangka Hamba Ya Robb…”

Aku belikan sepatu baru buat Si Bungsu, Lulu, berharap senyum ceria kembali terpancar di setiap pagi. Aku ke warung Bu Patmi untuk menutup lubang akan kemarin, berharap besok ia mengasihaniku lagi. Sedangkan sisanya“Alhamdulillah” Pas untuk biaya buku Angga.

“wah sepatu buat adek ya bunda… Alhamdulillah.. terima kasih bunda… adek kan lebih giat belajar lagi dan bisa menyaingi kakak nanti” celoteh Lulu membuat kembali tercurahkan akan cinta Mas Fahri yang berubah wujudnya. Sama halnya dengan Angga, Kini dia bisa mengikuti pelajaran dengan nyaman tanpa harus menunggu dan meminjam ke temannya.
Serasa hidup ini kembali terisi meski jalan yangdi tempuh tidak semulus perkiraan. Aku yakin akan kekuatan Cinta. Terkadang keadaaan membuat kita berasumsi, bahwa cinta kita tak berbalas. Padahal Cinta itu hanya berubah bentuk. Aku berharap cinta ini akan terus mengalir selama ketulusan dan keikhlasan berjalan bergandengan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: