Keabadian Cinta (Sebuah Cerpen)

Nampak antrian sudah banyak, layaknya orang yang mau lempar jumrah, saling berdesakan dan tak menghiraukan. Semua menunggu karena namanya juga ruang tunggu. Namun atmosfir ketidaksabaran dan keluhan di ruangan itu yang membuat aku bertanya “pantaskah ini disebut sebagai ruang tunggu ?”, Semestinya dinamakan Ruang Sabar. Jam menunjukkan 07.30, namun loket belum buka sama sekali. Terdapat papan diatas loket yang bertuliskan “BUKA 07.00 s/d 16.00” dan itu menambah tekanan saat aku membacanya.

“115 hemm… lama ini kelihatannya” gumam ku. Aku pun segera mencari kursi kosong untuk menambah energi ketidaksabaran di ruang itu.

“Sudah jam segini kok belum buka loketnya…?? apa orangnya bangun kesiangan to??”

“Ah bu namanya juga pegawai plat merah, meski datang telat, kan bayarannya tetep, kita rakyat kecil manut saja…” tambah ibu-ibu yang sudah cukup tua yang duduk dibelakang ku.

Dalam keadaan seperti ini terbesit ingin membenarkan. Melihat sekeliling penuh dengan orang yang sudah berumur. Bertambah pula tekanan ku hari ini saat aku sadar ternyata aku sendiri yang masih muda.

“Sakit apa nak..???” tanya seorang ibu-ibu tua memakai kerudung biru yang nampak begitu sehat, meski mayoritas yang disini adalah orang sakit.

“tidak koq ibu, saya cuma ambilkan antrian untuk ibu saya, yang lagi terapi, maaf kalau boleh tau ibu sakit apa?” tanya basa-basiku, agar dapat mengurangi tekanan dan mempersempit waktu tunggu.

“tidak nak, ibu cuma nganter bapak saja, untuk periksa rutin” ibu tadi ternyata bersama seorang laki-laki tua disebelahnya, tampak senyuman sehat dan ceria diantara keduanya. Yang aku rasa tiada rasa cemas atau harap akan pernyakit yang diderita.

“Alhamdulillah pak, kita ditemani mas yang ganteng ini di samping ku sini, sampeyan jangan cemburu lo pak ?” aku hanya bisa tersenyum. Ada hal yang nampak aneh antara ibu dan bapak ini. Meski sudah tua namun kemesraan dan candaan masih terlihat. Saling cubit dan bapak tadi menyandarkan kepala kepundak ibu. Serasa melihat dua sejoli yang dimabuk asmara. Serasa dunia milik mereka saja, bahkan kalau boleh yang lain ngontrak.

“Lha ndak mungkin to bu.. lha wong mas ini kan sudah ada yang punya, injeh to mas ? Lagian masa’ mau sama sampeyan yag sudah peyot.. ” tambah lagi dari bapak tersebut, yang aku yakin dia adalah suaminya.

Akupun cuma bisa membalas dengan senyum kecil, meski ada terbesit rasa cemburu melihat suasana penuh cinta di antara beliau berdua.

“Pake jamkesda atau BPJS mandiri nak?” tanya nya lagi, mungkin ibu ini merasakan hal yang sama, bahwa menunggu itu adalah hal yang paling membosankan.

“alhamdulillah dapat Jamkesmas bu” jawabku.

Syukurku ku ucapakan, meski mendapat bantuan asuransi dari pemerintah, yang namanya sakit itu sulit untuk di syukuri, terlebih hal itu terjadi kepada orang yang kita sayangi.

“dapat nomor berapa nak ?” pertanyaan ini membuat aku menjadi lesu kembali, karena aku melihat ditangannya ada nomor 79.

“115 bu… hari senin memang banyak seperti ini” hiburku untuk diri ini.  “ini ada nomor 84 nak pake saja”.

“Ini ndak pa-pa to ibu?” sahutku. “sudah nak, tadi ibu juga dikasih sama orang nomor 79 ini, kebaikan memang harus dialirkan”. Tanggapan ibu itu membuat ku sadar bahwa, ditengah kekalutan, tekanan ketidaksabaran dan di padang rasa cemas terdapat oase kasih sayang. Dan itu pasti ada kalau kita percaya.

Namanya mbah Daminem dan mbah Karso, ku lalui hari itu dengan berbicang dengan mereka, sungguh indah melihat kebersamaan mereka. Sempat aku bertanya tentang sakit yang diderita. Namun dengan senyum dan tapa rasa beban mbah Nem menjawab “saya disini cuma mengantar bapak koq nak, jadi tidak sakit”.

“Ndak nak saya yang menunggu pacar saya ini ”candaan tiba-tiba mbah Karso. Sekian kali aku bingung akan tanggapan ini. Mungkin itulah cara memotivasi atau menumbuhkan rasa kasih sayang di antara mereka. Sambil saling memandang dan saling senyum, akhirnya mbah Nem angkat bicara tapi rona mereka sedikit berubah.

“saya di uji dengan Kanker rahim nak, sudah sekitar 40 tahun yang lalu, alhamdulillah Gusti masih memberikan saya kesempatan untuk menikmatinya” Subhanallah… hati ini terasa bergemuruh, bahkan gemuruhnya sampai naik ke kepala ketika mendengar pernyataan demikian. tadi aku anggap anak-anak mereka sudah tidak mau peduli dengan orang tuanya. Kok tega sekali membiarkan mbah-mbah ini datang sendirian. Ya Allah… ampuni prasangka buruk hamba, ternyata mereka tidak mempunyai keturunan karena penyakit yang disandang.

“Bapak juga terapi nak ? Lha ibunya sudah di belakang” tanya Mbah Karso membuyarkan bengongku.

“eem.. ya bapak sudah di Poli Rehabilitasi Medik dari jam 7 tadi. Kalau boleh tau bapak sakit apa ?”. kembali, Sambil saling memandang dan saling senyum, sekarang Mbah Karso yang angkat bicara

“Penyakit orang tua nak, sama saja.. saya cuma kecetit saja, sakit pinggang dan sedikit sulit untuk jalan” aku rasa jawaban itu tidak sepadan dengan penglihatan ku. Karena Mbah Karso ini memegang tongkat bantu berjalan. Mungkin jawabannya ini adalah salah satu cara untuk membesarkan hati Mbah Nem, yang selama ini terus disampingnya. Aku melihat Mbah Karso sedang memegang hasil Rongent dirinya. Karena rasa ingin tahu, aku beranikan diri untuk meminjamnya dan melihatnya. Tanpa pikir panjang Mbah Karso pun memperlihatkannya pada ku. Saat ku lihat nampaknya ini adalah foto stuktur tulang belakang. Pada bagian kolom diagnosa bertuliskan “Osteosarkoma stadium 2”.

membacanya membuat hati ini semakin menciut, dada ini sesak, dan mata sedikit mendung. Aku tidak yakin kalau Mbah Karso cuma salah urat pinggang ternyata beliau menderita kanker tulang belakang sudah stadium 2. Berapa berat ujian yang Allah berikan pada mereka berdua. Jujur saja diri ini sudah lunglai saat mendengan penyakit Mbah Nem. Setelah melihat hasil rongent Mbah Karso, semakin lemas kaki ini.  Aku memandang mereka dengan penuh kagum, bagaimana rasa cinta mereka masih sama meski di dera berbagai ujian, yang menurutku, diri ini sudah tak kuat meski cuma mendengarnya.

“Ndak pa-pa nak, Gusti Allah sudah memberikan nikmat Mbah dengan bertemu Mbah Karso, candaannya membuat Mbah sehat, Ya to Mbah..??”.

“Lha.. iya too.. sampean yang beruntung, dapet suami ganteng kayak Al anaknya ahmad dani kayak gini” jawab Mbah Karso dengan candaannya.

Semula merasa aneh, karena hati ini terbolak-balik antara duka dan suka. Sadarku akan satu hal. Cinta itu abadi, meski dunia tidak berpihak tapi Allah lah yang memihaknya. Seperti Mbah Nem dan Mbah Karso. Insya Allah beliau berdua bahagia dalam naungan Cinta-Nya.

Advertisements

1 Response so far »

  1. 1

    Siti yulaikah said,

    Semoga pasangan nanti kayak Mbah karso


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: