Menari Diatas Angin (Sebuah Cerpen)

Hembus angin disemilir awal hidup, memulai indah akan karunia sang Pelukis alam Semesta. Tidak ragu untuk meratapi apa yang terjadi kemarin, Membuat Rio sadar bahwa kehidupan tidak seperti apa yang dia inginkan. Namun itu semua bisa tertuang dalam pengaribaan sujud subuh yang dia lakukan. Hati takut dan Harap yang menjadi satu, membuat khitmad pagi itu. Dikala sebagian makhluk masih bosan untuk menatap awan, ia sudah menengadah tangannya untuk memohon kemudahan dan keringanan atas perjalanan hidupnya.

Ya Robb, ingatkanlah diriku dan tenangkan hati ku, saat diri ini dalam keadaan senang, bahkan dalam keadaan susah,” Doa yang dipanjatkan

menatap sajadah yang dijadikan alas atas kelemahan dan pijakannya saat tiada kekuatan lagi untuk menahan beban hidup.

Ya Allah, kalau memang Engkau ridho dalam keadaan ku ini, Hamba Ikhlas, tiada lagi daya dan upaya atas apa yang Engkau kehendaki. Robbana Athina fidunya Hasanah, Wa fil Aakhiroti hasanah,wakina adzabannar” Ia tutup doanya meski tersendat-sendat, dengan harapan yang penuh dan kelemahan diri.

Di sudut kamar lain, terdapat temannya Andi, yang terlihat sayu dan mengusap matanya yang terasa ia tak mampu bangun dari mimpi malam yang terlihat indah, Rio menatapnya dengan senyum.

Tumben Loe dah idup jam segini”

Biasanya Gue yang bangun duluan diantara anak Kos sini, lembur tugas kampus lagi ya?”, Sindir Andi.

Ndak bro, cuma lagi ada sedikit problem aja” “Ya elah bro, sudah lah masalah cewek jangan sampe bikin galau napa? Kita lelaki harus kuat dan pilihan itu ditangan kita” Sahut Andi yang mengira masalah anak muda, khususnya lelaki yang galau adalah masalah perempuan.

Haiyah.. apa-apaan sich, bukan itu mas brai.. nyrocos aja, cuci muka sana biar pikiran juga bersih” tanggap Rio pada teman kosnya.

Suasana pagi itu, dimulai dengan kesibukan yang “nyata”, dimana dalam suatu lingkungan kos, kejadian seperti berebut kamar mandi, penggedoran pintu WC layaknya debt kolektor yang menagih utang jatuh tempo, ruang makan atau dapur yang seperti gudang. Menyenangkan dan menertawakan buat Rio. Namun itu belum bisa mengobati keresahan dalam hatinya.

Tidak seperti biasanya, pagi itu setelah mandi, Rio duduk di pojok kamar kosnya, bersandarkan 2 dinding yang membentuk sudut dan menopang kamarnya. Melihat hal itu, Andi melihat keanehan dalam diri Rio. Rionaldo Actavianus Tupanuhu, Seorang mahasiswa jurusan kesehatan, pribadi yang biasanya riang dan penuh dengan keglamoran dalam kesehariaanya. Dimana tidak ada raut muka sedih dalam wajahnya. Bagaimana tidak senang selalu, orang tua adalah pengusaha kayu sukses di Nusa Tenggara, Jangankan uang, wanita pun ia bisa memilih mana yang dia suka, sering ganti-ganti pasangan, adalah hal yang wajar bagi seorang Rio. Namun hari ini ia beda. Andi pun masuk dalam kamar Rio.

Bro, loe kenapa sich ?, ada masalah ya ?” tanya Andi

Melihat temennya itu Rio menjadi sedikit senang, karena selama ini, ia kira orang-orang yang disekitarnya hanya dekat karena ia banyak uang, karena materi dan status yang di sandang.

Bro gue mau curhat boleh?” Melihat keseriusan dan mata Rio yang mulai berkaca, membuat Andi bingung dan semakin ingin tahu apa yang membuat rekannya ini menjadi seperti ini.

Ada masalah apa sich bro… ? kalau bukan soal harem, ada masalah keluarga ya…” sambil menyalakan rokoknya

Iya bro, gimana gue nyampein ke ortu gue, gue belum siap ? “ “Nyempeiin apa bro” sambil menatap serius pada Rio

Gue mualaf bro” jawab Rio. “Uhuk..uhuk..” Andi tersedak asap rokok, “Lo serius… Yo “ Tegas Andi, sambil membuang rokok yang belum puas dia nikmati.

Serasa masih tak percaya akan hal yang dia dengar tadi, segera Andi merubah pola duduknya. Kini ia fokus dan menghadap lurus kepada Rio.

Ya bro.. gue selama ini merasa kosong, meski segala macam keinginan, materi, bahkan rasa perhatian wanita mudah gue dapat, tapi entah kenapa tidak ada kebahagiaan sekecil pun dalam hati ini.” semakin perhatian penuh Andi terhadap Rio setelah mendengar semua. Karena menurut pandangnya temannya ini sudah mendapatkan kebahagiaan dunia.

Apa guna gue hidup, apa tujuannya gue hidup, selama ini hanya untuk foya-foya belaka, apakah ini semua akan selamanya seperti ini. Jujur gue mencari-cari itu semua. Namun tak hayal hanya kesenangan semu yang gue dapat.” semakin mendalam pembicaraan tersebut membuat Andi Tertunduk menghela nafas panjang. Tersadar memang, bahwa kebahagiaan itu tidak berasal dari harta, kedudukan dan pangkat, namun itu muncul dalam hati nurani. Seberapa sering kita mau menerima dan memperjuangkan hakikat hati.

Bahwa Sang Pemilik Hati ini Maha Besar atas kuasa-Nya membolak-balikan perasaan.

Bagiamanapun kamu harus membicarakannya ke ortu loe, kalau ini sudah menjadi keputusan hidup loe, mungkin berat memang, tapi mereka memang harus tahu”

Benar bro, gue harus sampaikan apa yang menjadi tujuan hidup ini, bagaimanapun nanti hasilnya gue harus siap” melihat ke optimisan Rio akan jalur yang ia tempuh, Andi semakin yakin dan paham, bahwa tidak yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Walau perubahan itu seperti angin musim yang selalu membawa hawa yang berbeda, wajah yang lain, atau bahkan takdir yang lain. Yang terpenting, bagaimana hati kita bisa menari diatasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: