Hati Ku Tertinggal di Mushola (Sebuah Cerpen)

Bergetar lagi hati ini, “haduh.. kenapa hari ini datang begitu cepatnya”. Serasa baru saja aku bertemu dengan dia dan merasakan kakunya kaki ini berserta keluhnya lidah ini. Bagaikan orang bisu dan tuli. Tiada yang bisa di katakan dan tiada yang bisa didengarkan. Saat aku berpapasan dengannya, Mata ini berubah menjadi mata kuda yang fokus pada sesuatu meski banyak hal dan orang yang harus diperhatikan.

“Fita, kamu kenapa ? Sakit ya..? koq berkeringat dan terlihat gelisah begitu ?”

kagetnya diri ini ternyata salah tingkah ku di ketahui.

“Eh Rima, nggak koq, cuma lagi bete aja, tadi ujian matematikanya sulit beud, entah dapat berapa nilai ku, aku rasa nanti aku remidi”.

Sambil melirik kearah mana aku memandang Ia Berkata. “Hmm.. bukan karena itu… kamu mencoba mengalihkan perhatian ya..?? Rizqi to..??? haiyah ngaku aja..?? Cieee…..”

Sadar akan kebohonganku Rima mencoba menggali terus tentang apa yang terjadi pada diri ini. Layaknya polisi yang mengintrogasi pencuri. Semakin diam semakin dipojokan.

“Idih… kenapa sich.. ndak ah.. kamu keponya kebangetan.. udah gi, aku mau sholat dhuhur dulu, nanti keburu bel masuk lagi”

Jawabku sambil aku pergi meninggalkan Rima, terdengar dia masih menggodaku dari belakang. Namun dalam hati memang sedikit membenarkan apa yang dia katakan.

Aku ambil air wudhu, sambil menggulung lengan baju seragamku. Aku basuh wajahku, berharap tiada yang lain yang ku pandang kecuali Pencipta ku. Aku basuh kedua tangan ku, aka harap ini menggugurkan dosa yang kulakukan dengannya. Aku basuh sebagian kepala ku, untuk membersihkan pikiranku. Terakhir ku basuh kedua kaki ku, agar istiqomah menetapai jalan yang lurus.

“Ya Robb, aku berharap pada Mu akan rasa yang bergemuruh dalam hati hamba”

saat aku kembali menutup lengan ku dan memperbaiki kerudungku, tiba-tiba terdengar suara…

“Fita jamnya jatuh, itu punya kamu kan ?”

rasanya aku kenal betul suara itu, bagaikan tersambar halilintar, kaku seluruh badan ini dan lidah ini. Ingin aku menjawab iya atau terima kasih karena sudah mengingatkan. Namun aku cuma mengambil jam ku yang terjatuh dan pergi begitu saja sambil menundukan padangan ku. Selain karena tak mampu menatap wajahnya, aku takut nanti malah jadi salah tingkah.

Bergegas aku masuk ke mushola untuk menunaikan kewajiban ku, berharap Sang Pemberi Hati ini mau mengobatinya. Ku pakai mukena itu penuh sadar, bahwa diri ini memang harus di tutupi dan terlindungi.

Aku malu kalau rasa ini mengundang kecemburuan Allah pada ku.

“Allahu Akbar…”

Astaghfirullah… suara itu lagi, aku memang sudah gila atau bagaimana, jelas sekali itu adalah suara kak Rizqi. Nampaknya kali ini dia yang menjadi imam sholat jama’ah ini.

“Astaghfirullah.. Ya Robb, tenangkan hati ini, agar hamba bisa khusyuk dalam menghadap Mu” doa ku dalam hati. Kumantapkan kembali niat ku untuk menghadap Robb ku. Ku tarik nafas panjang bersamaan dengan penyelarasan niat ku. Aku membesarkan Mu Ya Allah dari rasa apapun. Aku membesarkan Cinta Mu Ya Allah dari Cinta Apapun.

Dalam harap ku dan cemasku, semakin deras rasa dalam dada ini. Seakan penuh dengan air bah yang siap menggulung dan meratakan segalanya. Ku bersujud berharap tiada lagi pikiran yang lain kecuali Robb ku. Ku ratapkan kepala ini sejajar dengan kaki, aku sadar betul bahwa segala macam angan-angan dan olah pikir manusia tiada apa-apanya kecuali atas kekuasaaan Allah semata. Ku bersimpuh memohon ampun atas segala hal yang kulakukan.

“Ya Allah, tiada daya dan upaya kecuali Engkau, Hamba tak mu menduakan Cinta Mu. Entah bagaimana tadi sholat itu kulakukan atas dasar cinta. Namun cinta yang mana aku tak tahu” . tak terasa mendung mata ini dan menetes peluh ini. Betapa lemahnya diri ini kurasakan.

Rizqi Putra Pratama, sosok yang membuat ku selalu dilanda kegelisahan dalam doa ku. Ia selalu menyita perhatianku saat mengikuti kajian di mushola. Kesabaran dan ketelatenan membina adik-adik tingkatnya dalam kajian membuat ku semakin gelisah. Aku yakin ini bukan rasa iri terhadap amal baik. Namun aku mencoba mengalihkannya ke rasa itu.

Setiap seminggu sekali, dia mengisi kajian dan itu pasti tak ketinggalan aku ada disana. Sebagai ketua Rohis di sekolah kami, ia memang sangat aktif baik kegiatan OSIS ataupun lainya. Disaat anak lain seusianya sibuk dengan band dan sepak bola. Dia memilih untuk sibuk dalam Dakwah. Namun entah kenapa beberapa minggu ini aku tidak melihat dia. Baik di lkegiatan OSIS ataupun mengisi kajian dimushola. Beberapa kali berjama’ah pun tak terdengar takbirtul ikhram nya.

“Astaghfirullah.. kenapa aku jadi kepo begini?” sadar bahwa dia benar-benar mengalihkan duniaku.

Setelah selesai merapikan mukena dan mengembalikannya ke almari. Rima datang menghampiriku. “Hai cantik… masih gelisah aja ya…???” guraunya yang tak mengerti apa-apa yang kurasa. “Udah lah Rim.. apa-apaan kamu ini”

“Eh aku punya sesuatu yang bisa mengobati kegalauan mu” kukerutkan keningku pada rima kuharap ini serius.

“Ini ada titipkan dari kak Rizqi buat kamu” sambil menyodorkan sepucuk surat kepada ku.

“Ini apa..??” di kepala ku masih penuh tanya akan keberadaannya saat ini.

“Udahlah baca aja, tadi Zulfa menginginkan aku menyampaikan ini pada mu, aku juga tidak paham, yang pasti katanya hanya aku yang bisa dimintai tolong untuk menyampaikan, dia juga tidak masuk sekolah beberapa hari” Semakin aku bingung akan semua ini.

Sepulang sekolah aku membuka surat yang diberikan Rima tadi. Sambil hati ini berdegup kencang. Ya Allah apa ini, menatap matanya saja aku tak mampu, mengapa ia melakukan ini.

Asssalamulaikum Ukhty..

Gimana kabarnya ? Insya Allah Baik kan?

Sebelumnya Mohon maaf, mungkin hal ini membuat kamu terkejut. Sengaja aku menitipkan ini kepada Adik ku karena dia satu kelas dengan Rima.

Maaf beberapa minggu tidak bisa ikut kajian, karena saya sedang menjalani proses pengobatan di Surabaya. Mungkin memakan waktu yang lama. Entah bagaimana saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Saya yakin ukhty pasti bisa.

Selama ini saya sering memperhatikan ukhty. ukhty selalu aktif dalam kajian dan juga tidak seperti akhwat yang lain. Insya Allah hati khty berada dalam mushola. Saya harap ukhty bisa melanjutkannya perjuangan saya, yakni perjuangan dijalan Allah.

Saya harap ukhty mau menerima amanah ini dan Allah selalu menyertai Ridhonya di jalan Dakwah ini.

Wassalamulaikum

tertanda

Rizqi Putra Pratama

Hati ini miris dan melilit. Surat itu pu basah akan tetes air mata ku. aku tengelam dalam tangis di kamar. Serasa dunia ini sempit dan tak tahu lagi kemana aku meluapkan semua keculai kepada Penciptaku

“Ya Allah bagaimana aku mengemban ini semua, apakah aku Mampu apakah aku bisa”

keesokan harinya aku menemui Zulfa untuk menanyakan keadaan kakaknya. Ternyata kak Rizqi mengidap kelainan jantung sejak umur 2 tahun. Selama ini yang memotivasi dia tetap hidup adalah kegiatan dakwah. Baginya tiada yang bisa dilakukan untuk mengisi sisa waktunya, kecuali memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Saat ini dia dalam kondisi kritis. Dan kata dokter kemungkinannya untuk bertahan kecil.

Zulfa pun menangis dalam pelukku. Tak terasa menetes peluh ini. Tak kuasa menahan gejolak dalam hati ini.

“kak Rizqi berharap agar kak Fita bisa meneruskan perjuangannya. Agar bisa menjadi bekal jariyahnya nanti ” perkataan Zulfa ini membuatku sadar bahwa Hati ini memang sudah terpaut di Mushola. Aku mengerti dan yakin bahwa seseorang tiada pernah merasa kan manisnya Cinta, sebelum mencintai Mu lebih daripada yang lain. Ya Allah.. istiqomahkan hati ini di jalan Mu…

-The End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: