Jauh Dimata Dekat Di Doa (Sebuah Cerpen)

“Muhammad Farid, Sarjana Pendidikan Islam” Panggilan itu membuat aku melaju tegap dan penuh harap. Aku gugup, ternyata setiap langkahku diperhatikan. Sambil melangkah ku tarik nafas panjang. Sadarku, bahwa ini adalah langkah awal untuk tanggung jawab keilmuanku. Aku fokus pada Bu Aisyah yang sudah siap untuk mengganti arah tali pada topi toga ku.

“Selamat Ya Farid, kamu sekarang sudah jadi sarjana, semoga ilmunya bermanfaat” ucap Bu Aisyah selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Tulungagung. Sambil senyum aku menundukan tubuhku. Ku ucapkan syukur tiada terkira dalam hati. Tak kusangkan anak dari keluarga yang sangat sederhana ini bisa lulus pendidikan tinggi. Aku persembahkan segalanya in untuk bapak dan Ibu ku. Ku peluk mereka dan kucium kaki ibu. Bahagia bercampur dengan haru. Karena aku tahu, tiada mungkin aku mengganti semua pemberian mereka. Masih dalam kebahagiaan yang mengharukan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi ku.

“Assalamulaikum, Mas farid, Selamat ya Atas Wisudanya…” ternyata Afida datang untuk mengucapkan selamat padaku.

“Wa’alaikum salam.. terima kasih afida..”

“Bapak, bu e, ini Afida yang dulu saya pernah ceritakan”. Setelah melihat Afida, bapak dan ibu saling berpandangan kemudian tersenyum padanya.

“Monggo main kerumah, nduk afida bentar lagi juga wisuda kan??” tanya ibu sambil memegang tangan Afida

“Pangestune Bu e.. mohon doanya semoga diberikan kelancaran dan kemudahan” Jawab afida sambil mencium tangan Ibu.

“Aamin…” Jawab kompak Bapak dan Ibu. Terlihat rona penuh harap pada wajah mereka.

Setelah saling bertegur sapa dan mengucapkan selamat kepada ku. Afida pun mohon diri. Entah kenapa meski ia sudah jauh meninggalkan kami, Mata ini serasa tak bisa lepas darinya.

“Le.. sekarang kan sudah jadi sarjana.. nunggu apa lagi to.. nggeh to pak ?” celetuk ibu tiba-tiba.

“nduk Afida itu lho.. wes ayu, pinter, sholihah pisan, kelihatannya sayang sama orang tua. Waktu tadi dia panggil “Bu e” kayak kamu. Ayem… hati ini le…”

“Bu e.. ndak baik berandai-andai, Afida kan sudah memberikan keputusan” kulihat rona wajah ibu berubah karena perkataanku tadi.

Afida Athiyatul Maula, adalah seseorang yang menyita perhatianku. Kesederhaannya dalam perilaku, membuatku heran. Disaat mahasiswi lain sibuk dengan penampilan dan fashion modis. Di lebih memilih memakai rok panjang atau baju long dress yang longgar. Tak lupa dengan kerudung yang tak neko-neko. Baginya, seorang perempuan itu yang terpenting adalah menutupi auratnya.

Semakin hari semakin aku kagum padanya. Pada saat itulah aku memberanikan diri untuk menulis surat khitbah yang aku titipkan pada Ani teman sekelasnya sekaligus anggota Rohis. Setelah 2 hari aku menunggu dan berharap ada titik terang darinya, aku mendapatkan jawaban tak terduga lewat pesan singkat yang dikirimkannya pada ku.

“Assalamulaikum, saya sangat kaget ketika membaca surat dari Mas Farid. Mohon maaf baru bisa memberikan jawabannya sekarang, karena saya harus berkomunikasi dengan bapak ibu di Riau. Saya hargai niat mas, Namun saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Mas, karena saya belum bisa menerimanya. Saya ingin fokus pada pendidikan dan cita-cita dulu mas. Mungkin ini berat bagi mas. Namun bila kita berjodoh, Insya Allah ndak akan kemana. Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa memenuhi harapan mas. Insya Allah akan diberikan yang terbaik buat kita semua.”

sejak saat itu aku jarang bertemu dengan dia. Komunikasi hanya sebatas sms, itupun karena mengirim jadwal kajian. Selain itu aku juga harus fokus tugas akhir. Aku sadar bahwa setiap manusia memiliki harapan dan cita-cita yang ingin diraih. Aku hargai keputusannya. Lagi pula aku punya cita-cita untuk membahagiakan dan membuat bangga kedua orang tua.

Sudah 3 Tahun semenjak aku wisuda dan terkahir kali bertemu dengan Afida. Kini aku sudah mengajar di MTS Negeri di daerah Rejoangan. Hari-hari aku lalui dengan mengajar dan belajar berbisnis. Alhamdulillah bisa memberikan sedikit senyum pada orang tua meski hanya bisa memberikan sebuah gubuk kecil untuk berteduh. Hari ini aku mewakili sekolah untuk workshop kurikulum pendidikan salah satu hotel di kediri. Banyak sekali guru yang hadir, karena semua guru se-karisidenan berkumpul dalam satu tempat.

“Benar ini Mas farid.. yang dulu sering jadi muadzin di kampus UIN” Tanya tiba-tiba seorang guru perempuan yang mamakai seragam phd warna biru khas pegawai Depag.

“Iya Benar.. Maaf, dengan ibu siapa ya..??”

tanyaku heran karena dia seolah benar-benar mengenalku.

“Ya Allah.. Sudah lupa ya Mas…?? ini Ani mas..” Ternyata dia adalah Ani, pantas saja wajahnya tidak asing bagiku.

“maaf jadi pangling, karena penampilannya berbeda saat kuliah dulu, Ngajar dimana An?”

aku perhatikan memang dia tidak terlihat gaul seperti waktu kuliah dulu. Kini dia sudah menjadi Guru PNS di MTSN 2 Kediri. Bercakap denganya serasa mengenang masa kuliah dulu saat di Rohis.

“eh Mas, Afida dapat beasiswa ke Malaysia untuk melanjutkan studi, memang Afida itu beruntung banget, selalu dapet beasiswa semenjak kuliah dulu, memangnya dia ndak bilang ke mas? ”. Entah kenapa ada yang aneh pada hati ini mendengarnya. Seperti tak rela tapi bahagia. Aku hanya bisa tersenyum sambil sedikit mengalihkan pandangan ku pada meja makan prasmanan yang sudah disiapkan pegawai hotel.

“ini kan sudah waktunya ishoma, makan dulu yuk, kamu dulukan setiap di masjid ada kegiatan jadi seksi konsumsi to ?” canda ku mengalihkan pembicaraan. Memang tentang jawaban khitbah dulu yang mengetahui hanya Afida, aku dan ibu ku. Mungkin Ani mengira bahwa aku masih berhubungan dengannya.

Mungkin diri ini yang terlalu berharap atau kondisi yang tak bersesuaian. Nampaknya aku belum pantas untuk itu. Lagi pula aku juga ragu, jikalau nanti tidak bisa memenuhi cita-cita dan harapannya yang sangat luar biasa. Yah.. mungkin ini saat nya untuk move on. Aku akan lebih memilih membalas cinta yang nyata bagiku. Cinta yang benar-benar tiada berbalas dari dulu bahkan sampai sekarang masih mengalir. Bagai air yang hujan yang turun ke bumi. Tidak akan berhenti selama air di belahan bumi ini masih ada. Ku fokuskan diri untuk orang tua. Terutama ibu, karena aku yakin seberapa banyak pun yang bisa kuberi, tak akan pernah bisa menggantikan kasih sayangnya. Bahkan untuk mengganti satu teriakan rasa sakit saat perjuangan beliau melahirkan ku ke dunia ini.

Lagi asyik-asyiknya membuat poposal bisnis di kamar, Ibu memanggil ku.

“Le.. sini sebentar, jo komputeran wae.. Bu e pengen ngobrol”.

Setiap ibu memiliki keinginan memang harus segera dituruti. Kalau tidak, ngambek dan marah yang menanti. segera ku tutup notebook ku. Aku melangkah menyanding ibu yang sudah siap duduk di ruang tengah, nampaknya ada bapak pula. Aku sudah merasa tema apa yang akan dibicarakan. Suasana seperti ruang sidang. Dimana akulah duduk di kursi pesakitan.

“Gini Le.. kamu kan sudah jadi guru, Bu e rasa juga sudah cukup mampu untuk membina rumah tangga, masa belum ada pandangan, eh kemarin Bu Niken bilang ke Bu e, ternyata dia mau mengenalkan anaknya ke kamu, Namanya Vivin, dia kerja jadi perawat dan insya Allah anaknya baik”. Aku mendengarkan dengan seksama setiap perkataan ibu, namun entah kenapa lidah ini terasa kelu tak mampu untuk menjawabnya, bahkan mata ini hanya bisa melihat lantai. Tak kuasa melihat wajah kecewa mereka berdua, karena jawabanku pasti sama dengan sebelumnya, yaitu tiada jawaban.

“Apa Sari..? dia kan teman SMA mu dulu itu lo, Bu e dengar sekarang dia sudah bekerja di koperasi, kamu masih komunikasi sama dia to??” aku hanya bisa mengangguk kecil, sambil terus menatap lantai ruang tengah yang saat ini terlihat sangat indah.

“Le.. Apakah kamu punya cita-cita lain??” pertanyaan bapak bak embun yang menyegarkan pagi. Beliau tahu betul setiap keinginanku dari kecil dulu.

“Nggeh pak.. saya pengen melanjutkan kuliah lagi” satu-satunya pertanyaan yang bisa ku jawab waktu itu.

“Sudah lah buk.. anak kita punya cita-cita yang baik, bagaimana pun kita harus mendukung. Intinya gini Le, apapun keputusan mu, Bapak dan Bu e akan mendukung. Kami hanya bisa mendo’akan semoga Allah berikan apa yang kamu harapkan dan cita-citakan”. Tak terasa seperti ada embun yang mau jatuh di pelupuk mata. Aku mengerti bahwa bapak dan ibu mempunyai keinginan. Namun semua itu di urungkan demi kebahagiaan anaknya. Rasa bersalah menyelimuti kalbu ku. Mungkin jawaban tadi hanya pengalih perhatian atau memang atas dasar harapan masa depan, entahlah.

Diskusi itu berakhir sama dengan sebelum-sebelumnya. Aku kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Ku buka kembali notebook ku. Belum sempat ku tekan tombol power, ibu sudah ada dibelakang ku.

“Le.. kamu masih berharap to sama Afida ?”

sepertinya ibu masih belum puas dengan diskusi tadi. Kembali ku tutup notebook ku. Dan sekarang aku bisa angkat bicara.

“Bu e.. dulu kan Farid sudah bicarakan. Afida sudah buat keputusan, Farid yakin Allah memberikan jodoh yang terbaik buat Farid nanti. Bu e juga do’akan nggeh…??” aku tak ingin ibu terus membahas ini. Tapi keliatannya masih ada tanda tanya di wajahnya

“Gini lo Le.. satu-satunya wanita yang pernah kamu ceritakan ke Bu e dan bahwa kamu lamar, cuma Afida, semenjak itu, Bu e kenalkan atau bahkan ada yang tanya langsung kamu, kayaknya kamu menutup diri. Bu e tahu betul kamu ini. Bu e.. ini ibu mu. Jadi tahu benar semua yang kamu rasakan. meski kamu tak pernah bilang apapun akan hal itu”

Kembali, lemas kakiku dan kaku lidah ku mendengar semua itu.

“Le.. kalau kita ada harapan dan cita-cita yang baik, sebaiknya diusahakan. Bu e percaya sama kamu, Bu e yakin kamu punya jalan hidup dan cara tersendiri yang lebih baik. Apapun keputusan mu Bu e selalu mendukung dan hanya bisa mendo’akan. Semoga Allah berikan apa yang kamu harapkan dan cita-citakan” sambung ibu sambil mengelus kepala dan pundak ku.

Sadar bahwa semestinya aku harus berhijrah. Berhijrah kepada cinta yang hakiki. Kepada cinta yang semestinya aku balas dengan syukur dan sabar dari dulu. Ya Allah… Sang Pemilik hati ini. Aku titipkan cinta ku pada Mu. Kepada siapapun nanti yang Engkau Ridhoi. Entah yang jauh disana atau dekat di doa. Satukan kami dalam jalan Mu. Sehingga kami bertemu persimpangan naungan cinta Mu. Aamiin…

Advertisements

1 Response so far »

  1. 1

    Siti yulaikah said,

    Kayak pernah denger crta ini ya
    Hemmm….😟


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: