Ketika Cinta Harus Memilih (Sebuah Cerpen)

Gemercik hujan belum terhenti dari tadi malam. Daun dan ranting mengangguk bergantian. Nampaknya matahari masih malu untuk menampakan senyumnya. Jalan yang masih basah meredam semua langkah kaki. Memandang keluar dan merasakan dinginnya hari, rasanya menusuk dalam palung jiwa. Andai saja diri ini awan yang disana. Pastinya hujan aku turunkan dari kelopak mata ini. Masih teringat dengan perkataan kakak semalam. Seperti guntur di siang hari. Aku tak mengerti mengapa dia begitu tega berkata demikian. Ketika malam kemarin terjadi perdebatan antara ibu, aku dan dia.

“Bu.. besok aku ada lomba futsal, sedangkan aku belum punya sepatu untuk itu, aku malu dengan teman satu team ku. Hanya aku yang memakai sepatu sket untuk bermain di lapangan” aku dengar permintaan kakak dari dalam kamar. Aku melirik kecil diantara daun pintu yang terbuka. Kulihat ibu hanya bisa tertunduk sambil melirik kearah pintu kamar ku.

“Pras.. besok adik kamu harus melunasi SPP sekolah, bagaimana kalau Dwi tidak bisa ikut ujian, ibu harap kamu bisa mengerti keadaan ini”

Sedih mendengarnya karena diri ini merasa menjadi beban, Bagaimana tidak, semenjak ayah pergi, ibu menjadi sosok kepala keluarga bagi kami. Aku tak tahu kenapa ayah meninggalkan kami. Karena perginya saat aku masih berumur 1 tahun. Setiap kali aku tanya ayah dimana, beliau hanya diam dalam senyum sambil mengalihkan perhatian dengan bertanya tentang sekolah dan teman-temanku.

Mendengar jawaban ibu, rona wajah kakak semakin dilipat.

“Tapi ini kompetisi bu.. kalu cuma latihan aku bisa gantian dengan teman, ini adalah jalan untuk mewujudkan cita-cita, karena jika aku lolos maka aku kan masuk ke pelatihan nasional bu…” potong kakak dengan jengkel.

“Tapi Nak.. ibu belum ada uang… Insya Allah segera aku belikan nanti, kamu sabar dulu ya“ jawab ibu memenangkan.

“Ibu ndak pernah mau mengerti Pras sama sekali, ini beda bu… entah yang lain atau apapun itu, aku tidak peroleh tidak mengapa. Aku tahu betul kondisi keluarga ini, Namun apakah cita-cita ku tidak bisa terwujud karena hal ini ? Apakah hal tersebut tidak penting buat ibu?” aku melihat air mata diwajah ibu. Tak kuasa aku melihat semua itu. Aku beranikan diri untuk angkat bicara

“Ibu uangnya buat sepatu kakak saja. Nantikan Dwi bisa ikut ujian susulan. Insya Allah Bu sSari mengerti. Nanti aku jelaskan di ruang guru saat bertemu dengan beliau”

“Tapi Nak SPP mu sudah menunggak 4 Bulan, surat dari sekolah kemarin membuat ibu kawatir, bagimana kamu nanti kelak??” jawab ibu dalam isaknya. Duka ibu semakin mendalam saat aku mendapat SP agar segera melunasi administrasi sekolah.

“Insya Allah Dwi masih bisa sekolah bu.. sudahlah lah bu… ” ku peluk Ibu untuk menenangkannya. Entah kenapa aku juga larut dalam tangis. Merasa tak berdaya namun berusaha menegarkan suasana.

“DWI.. Lagi.. DWI.. Lagi… kapan Ibu mulai memperhatikan aku…” teriak kakak tiba-tiba

“Kak… Dwi minta maaf.. Aku tak bermaksud untuk menyinggung perasaaan kakak, Dwi Ikhlas koq kak… ” aku mencoba untuk memenangkan Kak Pras.

“Selama ini Pras selalu di Nomor dua kan, semenjak Bajingan itu pergi, ibu tak pernah bisa memberikan apa yang Pras minta. Apa salah Pras bu… ??? kenapa lebih memilih Anak angkat daripada Anak sendiri.. ??? apakah karena kasihan pada nya” kemarahan kakak semakin mencekam dimana dia berkata sambil memukul meja. Tangis ibu semakin pecah saat itu. Ibu memelukku semakin erat. Terasa teriris perih hati ini. Melihat hal demikian terjadi pada orang yang aku sayangi.

“kakak.. jangan pergi kak… Dwi Mohon…. ”

tanpa hirau dengan pinta ku. Kak Pras Pergi meninggalkan rumah dengan membanting pintu. Sepertinya aku pantas mendapatkannya. Aku menuju luar rumah mencegah keburukan ini.

“Kakak.. Mau pergi kemana hujan deras begini, kak.. Dwi Mohon jangan lakukan ini pada Ibu.. Dwi Siap melakukan apapun… Dwi mohon kak.. Kakak.. Kakak…”

Aku tak bisa mencegah Kak Pras pergi.. Hujan semakin deras malam itu. Membuat orang tak tahu bahwa aku menangis dibawahnya. Kulihat punggung kakak semakin jauh meninggalkan rumah. Suara tadi masih menggema di telinga ku. Hanya dinginnya malam dan hujan yang bisa mengalahkan dinginnya jiwa ini.

Mengingat malam itu, tak terasa basah pipi ini. Pagi ini hawa dingin seperti menusuk dada. Tak terasa ibu sudah ada di belakangku dan berkata

“Nak.. Sarapan dulu, ibu sudah mempersiapkannya, nanti kesekolahknya terlambat lo..” aku tersenyum sambil menghapus sisa duka diwajah ini, karena aku tak ingin membuat hati Ibu semakin pilu melihatnya. Ibu menatapku dengan sayu, sepertinya aku memang tak bisa menyembunyikan sedihku dari dia. Aku kembali menangis, karena itu yang hanya bisa keluar sekarang. Hangat pelukkan ibu terasa berbeda pagi ini. Mungkin karena tanya dan duka yang tercipta atas peristiwa semalam.

“Nak.. Maafkan ibu tak bisa memberikan yang terbaik buat kalian, ini semua karena ketidak berdayaan ibu, sekali lagi ibu minta maaf ” permintaan maaf itu membuat tanya dibenakku kembali surut. Aku rasakan betapa berat kehidupan yang Ibu jalani, membuatku bertanya pada diri. Kenapa aku ini masih teringiang dengan perkataan orang yang marah, dimana yang keluar adalah kata sejadinya.

“Tidak bu.. ibu sudah memberikan yang terbaik buat Dwi dan Kakak, setiap pemberian orang tua kepada anaknya adalah hal terbaik. Dan tak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Justru Dwi yang harus minta maaf ke Ibu..”

aku terisak dalam peluk ibu, yang aku rasa itu adalah ibu kandung ku. “Ya Allah… kenapa hati ini ragu akan cinta yang sudah nyata didepan mata”

Di sekolah pun aku tak bisa penuh berkonsetrasi, meski pagi ini seyum dan sapa teman ku menyemangati pagi. Masih terbesit tanya dihati ini, tentang siapa diri ini.

“Eh Dwi.. koq bengong aja… kenapa sih??”

“Ndak ki.. ndak pa-pa, eh gimana tugas kesenian kamu, dah selesai belum, waduh aku belum sempat ngerjakan ini”

“Kamu gimana sih, wi… tadi kan di kasih tahu Roy didepan kelas bahwa Bu Tini hari ini ndak masuk, sehingga pengumpulannya ditunda pertemuan selanjutnya, kamu kenapa sih wi..?? dari tadi koq ndak fokus sama sekali” Satu lagi orang selain ibu, dimana aku tak bisa menyembunyikan perasaanku, Dia adalah Yuni, teman sekelasku. Dia adalah teman ku sejak SMP.

“udah lah jangan bete terus, mending isi perut untuk persiapan Ulangan Matematika Bu Rohma nanti, Hayuk.. ke kantin..!! aku traktir sosis bakar sepuasnya dech.. ”

Entah kenapa bersamanya sedikit mengobati kesedihanku saat ini. Meski terkadang dia membuat jengkel, namun senyumku selalu tercipta ketika bersamanya.

“Eh.. wi.. sebernarnya ada apa..?? curcol napa,?? siapa tahu aku bisa menambah masalah, eh bukan mengurangi masalah… he..he..” Candaan Yuni kembali menaikan otot pipi dan menenangkan syaraf ku.

Aku menceritakan kejadian semalam padanya. Kembali butir-butir bening jatuh dari mata ini. Aku tak tahu harus bagaimana, namun sepertinya Yuni berhak tahu akan hal ini.

“Mungkin perkataan Kak Pras itu hanya luapan kemarahannya. Sudah lah… jangan terlalu di pikirkan, ibu kamu kan sangat menyayangi mu, tak peduli status apa yang disandang, tak akan ada yang menghalangi kasih sayang dan cinta ibu pada anaknya”

“tapi aku merasa bahwa aku ini bukan bagian dari mereka, aku merasa berbeda di antara mereka Yun..” potong ku kepada Yuni, aku rasa ia tak mengerti apa yang ku rasakan.

“Tidak ada dalam sejarah manusia, bahwa cinta itu berpihak, setiap orang berhak mendapatkan cinta yang sama. Terlebih cinta Allah kepada hamba-Nya. Kalau cinta boleh memilih, tidak akan ada orang yang bersedih, tidak akan ada orang yang menderita, karena hakikat cinta itu berbagi kebahagiaan tanpa pandang siapa, apa dan mengapa.” mendengar penjelasan Yuni semakin deras hujan disudut mata ini.

“Kalau memang perkataan Kak Pras benar, apakah itu mengubah rasa cinta mu pada Ibu..?? apakah itu menghapuskan seluruh cinta yang beliau berikan kepada mu..?? tugas kamu bukan menghisab dosa orang tua kamu Wi…, tapi berbakti pada mereka”.

Sekolah telah usai, aku rapikan dan simpan semua buka yang ada di meja ku. Salam dan rindu akan hari esok terurai dari bibir teman-teman ku. Khususnya Yuni, yang tadi sudah memberikan pelajaran berharga pada hati ini. Aku berjalan beriringan dengan Yuni menuju gerbang sekolah. Kaget tak terduga, kulihat Ibu dan Kak Pras ada disana. Sepertinya mereka menungguku, segera kami menuju kearahnya.

“Ibu… Kakak…???” belum sempat aku bertanya Kakak sudah memeluk kaki ku dan menangis.

“Maafkan Kakak dhek… Kakak sangat egois” aku mencoba mengangkat badan kakak, karena aku tak kuasa melihatnya seperti ini.

“Maaf dhek… Kakak telah menyakiti hati mu, entah apa yang telah merasuki kakak kemarin, sebenarnya kakak tidak ingin berkata demikian, kakak khilaf”

“Ndak pa-pa kak, walaupun itu benar, aku tak akan pernah menyesal atau bersedih, karena aku sudah mendapatkan cinta yang tak pernah memilih dari Kakak dan Ibu, Dwi tak pedulikan siapa atau apa diri ini, ketika cinta itu harus memilih maka Dwi memilih menjadi adik kakak dan anak Ibu”

“Ibu sangat mencintai kalian, tak peduli kondisi dan keadaannya Cinta ini akan selalu ada buat kalian anak-anak ibu” Kami bertiga berpelukan dan larut dalam tangis bahagia. Aku melirik kearah Yuni, yang juga menetes embun di pipinya melihat kami.

Terima kasih Cinta, Engkau telah berikan karunia tiada terkira diatas segalanya. Saat Engkau memilih kepada siapa Engkau bersemayam, disitulah tiada tangis sedih dan nestapa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: