Aku Mengkhitbah mu untuk Menduakan mu (Sebuah Cerpen)

Serasa sesak dada Raisa, Bukan karena sakit asma, namun karena apa yang telah dialaminya. Bagaimana tidak, setelah sekian lama menunggu seseorang yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Datanglah seseorang yang berani mengambil resiko untuk menanggung setiap kehidupan dan dosa akan dirinya. Tapi apa daya, kali ini amatlah pelik bagi Raisa, karena syarat yang diminta calonnya.

Sudah umur berkepala tiga, dimana dahulu sudah banyak yang mencoba untuk merajut asa dengan nya. Tetapi, karena cinta nya lebih besar kepada cahaya ilmu, banyak calon yang pulang dengan tangan hampa. Dimulai dari saat masih berpendidikan strata satu, salah satu teman baiknya, Rian mencoba meminangnya. Dia adalah teman yang selalu disampingnya. Meski tak nampak raut wajah akan kasih dan suka. Tapi Rian sabar dalam diamnya Cinta. Sebelum wisuda dia beranikan diri untuk mengungkapkan segala gemuruh dalam hatinya kepada Raisa.

“Sa, setelah ini kan kita lulus, kamu ada planning apa ?” tanya basa-basi Rian.

“Entah lah yan, sebenarnya ingin aku segera mengamalkan ilmu ku, tapi aku juga kepingin lanjutin lagi, ini lagi coba-coba daftar scholarship di Malaysia”

“Oh yang dari Dirjen DIKTI yah.. yang di USM itu kah?” tanya Rian lagi. Raisa hanya mengangguk, meski hatinya tak dapat lagi membendung rasa. Tapi dia sadar betul bahwa pujan hatinya masih memiliki impian besar selain merajut mahligai rumah tangga.

“Lha kamu sendiri gimana ? Jadi sekolah lagi ?” Tanya balik Raisa.

“Insya Allah kalau diberikan kesempatan, pasti aku lanjutin lagi”. Mendengar hal itu Raisa tersenyum manis. Melihatnya, membuat gelombak ombak di hati Rian semakin menderu.

“Sa, ada yang ingin aku sampaikan pada mu” Serasa temannya ini mulai serius dia segera memasukan HP disakunya dan mulai memperhatikan Rian.

“Sebenarnya dari awal kita bertemu, aku merasa kagum terhadap mu, disaat perempuan yang lain sibuk dengan modis dan kegiatan yang kurang bermanfaat, kamu lebih menyibukan diri dengan ilmu dan agama, tak pernah sekalipun aku melihatmu tertawa lepas saat bersama teman-teman, entah kenapa aku sering memperhatikan mu, aku mengerti aku belum apa-apa dan bukan siapa-siapa, tetapi mungkin ini saatnya, aku ingin kamu tahu, bahwa aku sayang kamu, dan aku tak ingin rasa ini jadi dosa buat ku bila tak dihalalkan. Maka dari itu izinkan aku mengkhitbah mu”

Rian mencoba tegar dan mengumpulkan tenaganya. Berharap reaksi dari Raisa. Namun ternyata, butir-butir bening jatuh dari pelupuk mata Raisa. Setelah sekitar 5 menit terpaku dalam diam, akhirnya Raisa berkata.

“Maaf yan.. aku belum bisa menerima cinta mu. Sekali lagi aku minta maaf. Bukan karena Engkau yang tidak pantas atau sebaliknya. Namun aku masih punya banyak capaian dan harapan selain itu. Aku tak ingin kamu menunggu hal yang belum pasti.” sambil terus berderai air mata Raisa.

“Meskipun aku harus menunggu sampai engkau gapai semua cita dan angan mu, Insya Allah aku sabar menunggu mu Sa” ungkap Rian penuh harap.

“Alangkah baiknya, bila engkau sabar dalam mencari yang lain daripada menunggu sesuatu yang belum pasti. Aku sangat menghargai niat tulus mu. Tapi aku tak mau kehilangan sahabatku Rian Adi Saputra, yang selalu hadir dalam memberikan canda dan celoteh gembiranya. Maaf kan aku Rian”

Mengingat hal tersebut semakin deras air mata Raisa saat ini. Rian sudah menikah dengan sahabatnya Zulfa, seusai wisuda strata satunya. Sesal di dalam dada bercampur aduk menjadi mendung badai bila menyatu dengan kondisi saat ini. Dalam masa 3 hari, dia harus memberikan jawaban dan keputusan, dimana hal itu akan berdampak besar dalam hidupnya. Hari itu segala macam memori di otaknya diputar ulang, layaknya adegan rekonstruksi ulang kejadian perkara. Mengulik memori saat dia di Malaysia. Seorang dosen fakultas sastra Inggris di USM yang bernama Habibi Fahriansyah, berniat untuk meminangnya. Dia juga menolaknya, dengan alasan studi Master yang belum selesai dan status keluarga yang tidak setara. Memang cinta tak memandang harta, tapi dia mengerti bahwa cinta tidak hanya menyatukan dua insan, tapi jua dua keluarga.

Pulang ke negara sendiri dengan membawa predikat Master tak selalu berarti bahagia, tetangga mulai membicarakannya. Meski sudah menjadi dosen di universitas ternama di Jogja. Tak ada rasa penuh atau cukup dalam hatinya. Sekarang, karena status dan strata yang disandang, belum ada seorang lelaki yang datang untuk menyatakan niat baiknya. Mungkin karena minder atau bagaimana, Raisa hanya bisa menghitung rindu diatas doa.

“Ya Allah.. Salahkah Hamba bila mencari ridho Mu di Jalan Ilmu ?, Salahkan Hamba yang dulu menyiakan cinta Mu ?, Astaghfirullah Ampuni dosa Hamba dan prasangka hamba ini.. Hamba hanya ingin menjalani perintah Mu dan menjauhi larangan Mu, maka dari itu berilah petunjuk Mu”. Doa yang selalu dia lantunkan di setiap malamnya. Berharap hati yang tenang dalam naungan-Nya

Mungkin Muhammad Afif Abdul Fatah adalah jawaban dari doa Raisa selama ini. Dia adalah seorang Guru muda, anak semata wayang dari keluarga yang sederhana. Dia memberanikan diri datang untuk melamarnya. Sejenak dia ragu karena umur yang terpaut cukup jauh. Namun itu tak mengapa, karena Ibunda Khodijah juga demikan saat mengkhitbah Rasulullah. Namun bagai Guntur di siang hari. Dimana saat dia sudah melewati masa berta’aruf dan saling cocok. Afif menanyakan hal yang tak terduga. Pertanyaan yang setiap wanita akan sakit hati bila mendengarnya. Dalam pesan singkatnya dia mengatakan

“Mohon maaf ukhty, setelah saling mengenal satu sama lain. Saya merasa ada kecocokan dengan Ukhty, namun ada sesuatu yang mengganjal, dan saya rasa memang harus saya tanya kan, Setelah Menikah nanti apakah Ukhty siap untuk di Dua kan ?”

pesan singkat ini yang membuat kelopak mata Raisa Membiru 2 hari ini. Tiada daya lagi untuk menatap langit. Serasa berat ujian yang Allah berikan padanya. Dia tak berani lagi meminta, walaipun dia tahu, Bahwa Allah Maha Pemberi. Mungkin karena kelemahan dan ketidakberdayaan Raisa. Dimana tiada lagi pilihan yang tersedia, kecuali tenggelam dalam memori dan bayangan masa lalunya.

Besok adalah hari terakhir dimana dia telah meminta waktu untuk menjawab pinangan Afif.

Malam ini terasa begitu pekat. Dingin dan gelapnya masuk dalam relung hati Raisa. Dia kuatkan diri untuk mengambil Wudhu dan Bersujud untuk sekian kalinya.

“Ya Allah… betapa berat hati ini untuk mengungkapkan pada Mu, meski Engkau tahu isi hati ini, Namun aku tak kuasa lagi untuk menampungnya. Aku berharap seperi fatimah yang hanya dan cuma Ali yang dicinta dan mencintainya. Kalau memang Engkau ridho akan kondisi ku. aku akan menjadi layaknya ibunya, yaitu Khodijah bagi suamiku kelak”

Akad telah terucap dan pesta telah digelar. Hiruk pikuk sanak saudara memberikan doa dan selamat bagi Raisa dan suaminya, Muhammad Afif Abdul Fatah. Suasana gembira tumpah meruah di dalam tenda. Ada rasa tenang di hati Raisa, namun disetiap laut yang tenang, ombak besar ada disetiap tepinya.

Malam itu, dalam mahligai cinta yang dicipta antara kedua insan. Raisa duduk disamping Suaminya. Bercampur rasa dalam dada, tak terduga pecah tangis Raisa kala itu.

“Astaghfirullah.. mengapa engkau menangis… bukankah ini adalah hari bahagia buat kita ?”

Afif mencoba untuk mengusap air mata istrinya, namun Raisa menghidar sambil mengusap air matanya sendiri. Sadar bahwa ada beban dalam benak istrinya, dia hanya bisa terdiam.

Dalam air mata Raisa berkata

“Maaf mas, bukan bermaksud merusak kebahagiaan kita saat ini. Aku memang sudah halal buat mu, apapun perintah mu, jika itu sesuai dengan perintah Allah dan Rosul-Nya Insya Allah saya akan kerjakan. Meskipun hal itu berat bagi ku, saya sadar sekarang ridho mu adalah pahala buat saya. Aku ingin bertanya kepada mu mas, aku sadar cinta ini tak sempurna, karena kurang dan hina adalah pakaianku. Namun, apakah satu cinta yang tak sempurna ini tidak cukup bagi mu? walaupun nanti, aku ridho jika cinta ini terbagi. Aku tahu bahwa cinta ini dari, hanya dan untuk Allah semata”

Afif menatap dalam mata istrinya. Teringat pernyataan dia tempo dulu. Hal itu pasti yang menyebabkan istrinya menangis. Afif menghela nafas panjang kemudian tersenyum lembut pada istrinya.

“Aku tahu bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, maka dari itu, aku ingin menyempurnakannya dengan mengkhitbah mu. Maksud dari pertanyaan ku dulu, bahwa engkau siap di dua kan, adalah apakah engkau siap aku duakan dengan Allah ?, karena hati ini terlanjur jatuh cinta pada-Nya, aku tak ingin menduakan Allah, meski aku mencintai mu karena-Nya, Apakah engkau siap di duakan dengan ibu ku ? dia adalah satu-satunya wanita yang sangat ku cintai, tiada satupun cintanya yang dapat ku balas, setetes air susunya tak mampu aku ganti, meskipun aku jadi budaknya seumur hidup. Istriku, tiada yang lebih besar mengalahkan cinta ku pada kedua hal tadi selain cintaku pada mu, sehingga aku tak mau mendera cinta tulus mu. Aku tak ingin jika engkau merasa tak adil akan cinta yang kumiliki sebelum cinta mu. Cukuplah dirimu, Raisa Nur Zulaikha sebagai penyempurna ibadahku”

Kembali, air mata raisa mengalir deras, kali ini bukan terasa sakit teriris, namun tiupan surga cinta yang Allah berikan kepadanya lewat cinta suaminya. Dalam peluknya Raisa bertasbih, dalam rangkulnya Afif bertahmid.

Advertisements

2 Responses so far »

  1. 1

    Ara said,

    Ini Cerpen atau Kode nih Rudi? Atau pengalaman pribadi? haha


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: