Siapakah yang Paling Engkau Cinta? (Sebuah Cerpen)

Kembali, aku menyusuri jalan ini. Dimana perasaan akan ketikdakpastian terus mengiringi. Tatapan mata Mas Ari dan Kak Ria seperti tatapan penuh harap. Seakan mata itu berkata “Hayolah Kevin, buka hati mu kali ini”. Hmm… aku helai nafas berjalan sambil masuk kedalam kafe Starbuck di Jalan PK Bangsa. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, namun kali ini terasa berbeda. Seakan angin sore ini juga bertanya pada ku. “Apakah yang kali ini benar-banar sesuai pilihan mu ?”. Aku melihat keatas, merah mega langit seakan tersipu malu pada ku. Entah kenapa setiap kali kesini, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

Krek…pintu kafe terbuka. Salam sapa pelayannya begitu mesra, seakan tak jemu padaku, mengetahui bahwa hampir 3 kali pada bulan ini aku kemari.

“Mau minum apa kali ini” tanya Mas Ari padaku.

“Seperti Biasanya aja mas” Seakan Mas Ari sudah mengerti, bahwa aku pasti pesan Lemon Tea.

“Aku harap jawaban kamu kali ini ndak seperti biasanya Vin…” aku tertunduk mendengar pernyataan Kak Ria.

“Maaf kak, semoga ikhtiar kali ini bisa mendatangkan kebaikan.”

“Aamiin…” Jawab Mas Ari dan Kak Ria Serentak dalam senyumnya.

Kakak Ipar ku ini memang sedikit cerewet masalah Jodoh. Dulu saat dia kenalkan aku dengan teman satu kantornya yang bernama Julia. Aku merasa belum cocok. Meski menurut Kak Ria, Julia merupakan wanita sholehah, patuh pada orangtua dan pekerja keras. Ada juga Sally, cantik sih tapi masih kekanak-kanakan.

Sebenarnya yang cerewet masalah jodoh siapa sih ? Kak Ria atau aku sendiri. Emm.. Entahlah.. aku sendiri juga bingung, sebenarnya aku tidak terlalu banyak kriteria untuk masalah jodoh. Yang penting sholehah, cantik dan penyayang (he..he..) tapi ada satu pertanyaan yang apabila dia bisa menjawabnya dengan tepat, semua kriteria tadi akan aku kesampingkan. Yaitu “Siapakah yang Paling di Cintai Di dunia ini?”. Mungkin terkesan Lebay atau pertanyaan menjebak. Tapi aku sendiri juga mencari jawaban atas pertanyaan ku sendiri.

Satu-satu persatu calon yang telah diperkenalkan, baik Kak Ria atau Mas Ari, belum ada yang bisa memberikan jawaban yang pas dihati. Ada yang Nama Cici Amelia. Seorang pegawai Bank Syariah. tapi saat ku tanya tentang siapa yang paling ia cintai. Dia menjawab

“Aku sangat mencintai Adik ku, tapi adiku lebih cinta pada boneka barbie nya” Hadeh…

Ada juga Azizah seorang guru ngaji dengan jawabannya gini

“Aku sangat mencintai ibu ku” sesaat aku terkesan dengan jawabnya. Namun tiba-tiba

“Tapi beliau lebih mencintai adik ku (sambil mewek)”

Ya Ampun…, memang sebagian orang yang mencintai ingin cintanya berbalas dan merasa sakit kalau bertepuk sebelah tangan.

“Aku Mencintai Opa ku, tapi opa ku lebih mencintai bonsainya” aku mendengarnya sambil garuk-garuk hidung.

Satu, dua, tiga kali gagal berta’aruf, tapi tak mengapa aku yakin ihktiar ku ini akan bernilai dimata Allah dan memberikan yang terbaik insya Allah.

“Vin.. dah dibaca CV-nya ? ” Tanya Kak Ria pada ku, aku mengangguk, aku harap tidak ada yang kukecewakan kali ini.

“Yuli itu orang baik, kalem, dan sholehah insya Allah, semoga cocok ya?”

Tambah Mas Ari.

“Aamiin mas..” Jawabku sambil ku hela nafas panjang dan mantapkan niat dan ikhiarku.

“Assalamulaikum…”

“Waalaikum salam” Jawab serentak kami.

“Ini yang namanya Yuli.. ” Kata Kak Ria, aku Cuma bisa menundukan pandangan ku, sambil curi pandang dikit-dikit (he..he..)

“Ini yang mana ustadznya ya ? koq ganteng-ganteng semua”

Perkataan Yuli membuat aku dan Kak Ari tersipu malu. Kak Ria melirik tajam kepada Mas Ari.

“Aduh..aduh..2x” kulihat Mas Ari agak kesakitan akan sesuatu sambil memiringkan badannya, sambil memandang istrinya.

“Sebelah saya ini yang namanya Kevin Apriansyah, kalo saya Ari kakaknya Kevin”

“dan Mas Ari adalah suami saya, jadi sudah ada yang punya ya mbak..” Tegas Kak Ria, akupun tersenyum melihat kecemburuan Kakak iparku.

Memang bisa dibilang jarak antara aku dan Mas Ari Cuma selisih 2 tahun, bedanya Mas Ari Sudah memiliki 2 anak sedangkan aku sudah memiliki anak didik sebanyak 124, soalnya jadi guru pendambing Bimbel (he.. he..)

“Mbak Yuli sudah baca CV nya Kevin..??”

Aku milirik kearahnya dia hanya mengangguk saja.

“dek Yuli ada yang mau ditanyakan untuk Kevin..” Tambah Kak Ria.

Kemudian setelah itu, dari yang semula fokus ke Yuli, sekarang padangan Mas Ari dan Kak Ria beralih pada ku. Entah kenapa saat ini aku mendapatkan tatapan mata yang berbeda saat mereka ngobrol dengan Yuli.

“Kevin.. ada yang mau ditanyakan dengan Mbak yuli?” Tanya Mas Ari.

“Boleh kah ?” tanyaku malu-malu. Mas Ari mengangguk tanda setuju dan mempersilahkan aku untuk bertanya.

“emm.. Nama lengkapnya Siti Zulaikhah ya ?” kembali dia hanya bisa mengangguk kecil.

“Kalo boleh tau Siapa Yang Paling Anda Cintai Di dunia ini ? ”

Sejenak suasana menjadi hening. Aku melihat mas Ari dan Istrinya terdiam menungggu reaksi dari Yuli. Aku melihat Yuli mengerutkan dahinya. Mungkin dia berpikiran ini suatu pertanyaan konyol atau bahkan pertanyaan yang menjebak. Setahuku pertanyaan ini lebih sulit dari soal matematika diujian Nasional, atau mungkin dia terlalu berpikir terlalu jauh.

Dag.. Dig.. Dug… seperti bedug pada hari jum’at. Itu yang kurasakan dalam dada ku saat ini.

Setelah menunggu sekian lama. Akhirnya dia angkat bicara.

“Emm… kalau itu tidak menentu Mas… tergantung situasi dan kondisi, tapi saat menikah nanti saya bisa menjaga cinta yang telah diberikan baik dari orang tua suami atau orang tua saya, dan tentunya juga suami saya nanti.”

“Heh.. vin.. ini lho pasti cucok buat kamu… jawabannya lain daripada yang lain, kan?” bisik Mas Ari pada ku.

“Cinta itu ndak perlu di cocok-cocokin, yang penting Seiman dan akhlaknya baik, nanti juga bisa cocok sendiri, udahlah… Yuli aja Ya…??” Tambah kak Ria.

Aku hanya menunduk, enggan menunjukan reaksi kepada Kakak Ku. Namun aku harus tegas dalam memberikan jawaban, daripada nanti semakin tidak enak.

“Emm.. Maaf Mas , Kak.. ” Serasa berat aku mengucapkannya. Aku melihat gurat kekecewaan diwajah mereka. Aku terus menunduk sambil menghela nafas panjang.

Sekali lagi, kami pulang dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya. Dalam perjalanan pulang, serasa aku ini bagai terdakwa yang ada di kursi pesakitan. Meski aku duduk di jok mobil yang empuk.

“Sudah berapa banyak hati wanita yang kamu sakiti, Kalau kamu tetap seperti ini”

“Iya vin… aku dan Kak Ria jadi bingung sendiri, sebenarnya kamu nyari pendamping kayak apa sih?”

Aku hanya bisa duduk diam tanpa kata, tak ada yang bisa aku jawab untuk pertanyaan Kak Ria dan Mas Ari.

“Kali ini tolong dengerin kami, kita itu Mudah jatuh cinta, bahkan dalam hitungan detik, tapi butuh waktu sepanjang masa untuk menjaganya. Aku dan Mas mu dulu juga berta’aruf tanpa bawa rasa. Karena kami sudah berkomitmen untuk membangun cinta. Jadi bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain”

Tak terasa pipi ini basah setelah mendengar ungkapan Kak Ria. Mungkin memang aku yang terlalu melangit atau suatu kriteria yang tak mungkin pada saat ini. Entahlah… aku hanya bisa berharap diberikan kekuatan dalam setiap simpuhku.

“Ya Robb Yang Maha Tahu akan apapun yang ada dalam hati ini, Apakah memang Hamba sedang mempersulit diri ? atau memang hamba yang terlalu bodoh, Astaghfirullahal Adzim.. hamba hanya ingin melabuhkan Cinta yang tepat, Cinta yang selaras dengan Cinta Mu, Cinta yang berjalan beriringan dijalan Mu ” Doa itu yang ku lafalkan disetiap tahajudku. Berharap aku mendapatkan tempat untuk berteduh yang tepat. Yaitu dalam naungan Cinta-Nya.

_ _

“Hmm.. Bisa jadi bosan nih sering-sering kesini” gumam Kak Ria saat memasuki Starbuck.

“Hah… Mau gimana lagi, namanya juga ikhtiar, iya kan vin..?”

Aku hanya diam untuk menyembunyikan rasa sungkan yang sangat kepada Kak Ria dan Mas Ari. Melangkah menuju tempat duduk yang sama dan memesan minuman yang sama.

Perasaan yang kurasakan pun sama seperti sebelumnya.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati ini. Tangguhkan hati ini dan istiqomahkan aku” berkata ku dalam hati agar kuat menghadapi kemungkinan yang lain.

“Eh tu Laila dah duduk di tempat kita”

Entah kenapa aku merasakan hal yang berbeda. Seperti pelangi yang masuk kedalam ruang kafe. Berwarna-warni dan bernada. Tiada hujan, tak juga minum Es, tapi dada ini adem banget.

“Heh.. koq jadi ngelamun, hayo duduk” tiba-tiba membuyar Kak Ari pelangi yang sudah tergambar tadi.

“Mau pesan Apa Vin? Lemon Tea ?”

“Capucinno aja kak..” mendengar itu terlihat raut wajah gembira Kak Ria dan Mas Ari.

“Mbak Laila Sudah baca CV-nya” Tanya Kak Ria

“Sudah Mbak..” mendengarnya dada ini seperti bergetar tapi tak bernada.

“Ini yang namanya Kevin Apriansyah, orang yang fotonya sama dengan di CV itu. Kalau ndak sama bisa ditukar kok mbak asalkan notanya masih ada” guyonan Mas Ari mencairkan suasana.

Namanya Lailatul Rahmawati. Kelahiran Depok, 17 Januari 1993, Anak ke -3 dari 4 bersaudara. Golongan darah O.(Koq bisa tau ?) ya iya lah kan saya lagi baca CV-nya (he.he.)

“Heh.. koq ngelamun lagi to Vin, ada pertanyaan ndak kepada Mbak Laila ?”

“Emm.. Mbak Laila, Siapakah yang Paling engkau Cinta?”

Kembali Kak Ria dan Mas Ari berharap-harap cemas pada jawaban yang diberikan nanti. Ada yang aneh dari kandidat sebelumnya. Disaat menghadapi pertanyaan ini Laila hanya tersenyum kalem, kemudian berkata

“Manusia Mas ?” tanya nya balik

“iya…” akupun menunggu cemas

“untuk Manusia yang paling aku cinta adalah Rosulullah Mas. Tiada yang lebih aku cinta dibandingkan Beliau. Bagi ku, Mencintai Allah dan Rosulullah adalah cinta yang sesungguhnya. Tiada yang Cinta Abadi melebih cinta keduanya kepada kita.”

“Kenapa Mbak Mencintai Allah ?” tanya ku penasaran

“Mencintai atau dicintai merupakan dambaan setiap orang. Kita diciptakan dengan cinta. Allah menciptakan kita bukan tanpa sebab, bukan pula karena kita yang meminta, Namun karena Ia cinta. Banyak orang sakit, marah atau bahkan gusar karena cinta yang tak berbalas. Sedih dikala apa yang disuka atau di kagum, tidak memberikan hal atau respon yang sama. Coba sedikit kita sisihkan sebagian perhatian kita pada diri kita. Lihat diri kita, tidak kah kita merasakan cinta didalamnya. Kesempurnaan penciptaan terlebih pada karunia nafas, seberapa butuhkah kita akan nafas yang kita sendiri tak pernah minta, Allah berikan dengan percuma. Kesempurnaan penciptaan indra kita, pernahkan kita sedikit menengok saudara kita yang indra nya tidak sebaik kita. Adakah yang cinta diberikan oleh Nya kita balas atau kita respon sebesar apa yang Ia berikan ? Tidak.. Allah tidak butuh itu, Cinta Nya itu memberi apa yang kita butuhkan, itu salah satu alasan saya Mencintai Allah Mas”

Mendengarnya diri ini menjadi malu dan sedih. Betapa banyak nikmat Allah yang telah aku dustakan.

“Em.. Mengapa mencintai Rosulullah?”

Sambil tersenyum manis dia menjawab “Saat mengingat Rosulullah, saya melihat kedermawanan seorang yang menyedekahkan sebagian hartanya, saat mengingat Beliau saya merasakan kasih sayang orang tua kepada anaknya, saat mengingat Beliau saya merasakan indahnya tali persaudaraan. Bahkan Beliau Ucapkan kalimat cinta yang indah saat beliau mendekati ajalnya. Apakah salah jika mencintainya meski tak sebesar cinta Beliau kepada kita? Sedangkan kita tahu tak bisa membalas cintanya selain dengan berjalan dalam jalan Cinta-Nya”

Tak terasa mata ini mendung, kulihat Kak Ria pun menetaskan air mata mendengarnya. Terasa mendengar semesta Bertasbih dan Bersholawat bersamaan. Menyucikan Dzat yang Maha Cinta dan Menghidupkan dalam hati, rasa Cinta kepada Manusia yang Membawa Cinta-Nya kepada kita, Rasulullah Muhammad SAW.

“Mas.. Besok bisa saya di antarkan Kerumahnya Mbak Laila ?”

Senyum bahagia tak terhingga kurasakan di wajah Mas Ari dan Kak Ria. Terasa tak percaya mungkin bahwa ikhtiar mereka selama ini tak sia-sia. Terima kasih ku ucapkan kepada Mas Ari dan Kakak Ipar ku, yang telah sabar mendampingi ku dalam mencari Cinta yang sesungguhnya. Dan tak lupa kepada Dzat yang memberikan Cinta kepada Aku, Kita dan Mereka. Bukan seberapa cepat waktu Cinta datang. Tapi cinta Datang diwaktu yang tepat.

Advertisements

3 Responses so far »


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: