Dimana Engkau Berada (Sebuah Cerpen)

Aku keluar dari kebiasaanku. Yang sebelumnya aku sudah terlarut dalam buaian selimut dan dekapan mimpi. Berjalan di iringi dengan desing mesin dan roda, berharap angin dan debu di luar sana bisa menghapus lara ku. Entahlah kenapa ramai kulihat kota ku ini. Padahal aku tidak sebentar disini. Sejak umur 2 tahun sudah berdiam disini. Namun malam ini terasa asing bagiku untuk menyusuri jalan yang lama ku kenal.

Berhenti sejenak di lampu merah. Kulihat sekeliling nampak lelah. Mungkin karena mereka baru saja lembur kerja atau mengalami hal yang sama dengan ku. Ada pula muda-mudi yang saling bercanda di jalan. Kelihatannya terlena akan sesuatu. Selama mereka bercanda tak sadar sekitar memperhatikan, meski lampu sudah hijau, mereka tetap bercanda diatas motornya. Ku pacu lebih motor ini agar semakin banyak angin yang menerpa diri ini. Ingin ku terbang namun apa daya bumi ini terlalu indah untuk ditinggal pergi.

Setelah melempar padang disetiap sisi jalan. Ku mantapkan hati untuk berhenti di salah satu kedai. Terlihat sepi, namun yang kucari bukan hanya kopi atau nasi. Yang membuatku jatuh hati adalah papan besar di pintu masuk bertulisan “Free Wifi”. Aku bisa berlama-lama disana walaupun dengan secangkir kopi susu.

Segera aku mencari tempat yang pas. Kulihat ada kursi kosong di dekat televisi. Ah pas sekali ini. Ku nikmati tegukan pertama. Alhamdulillah masih kurasakan nikmat indra pengecapku yang sempurna. Segala macam yang Allah beri memang tiada yang sia-sia. Ku buka notebook ku. Sambil menunggu karena loadingnya lama. Aku sruput kembali kopi susu ini. Mata ini menyusuri disetiap icon yang ada pada desktop. Mencari dan terus mencari dimana Gambar Huruf “W” besar berada. Dan apada akhirnya aku double klik dan munculnya lembar putih suci dilayar. Sejenak aku alihkan pandang kearah langit-langit kafe. Sambil ku hela nafas panjang. Berharap ada sesuaitu yang bas aku tuangkan dan curahkan di lembar tersebut.

Aku pandangi disetiap sudut. Aku tepaku pada kotak putih dengan lampu hijau yang berkelip di tengahnya. “Astaghfirullah…” aku lupa bahwa disini ada Wifi.

“Mas.. Mas…” ku ayunkan tangan ku ke salah satu pelayan kedai tersebut

“Iya Pak.. mau pesan sesuatu lagi…” memang wajah ini yang boros atau sedang dirundung masalah, kok aku di panggil pak sih. Hadeh….

“Maaf mau tanya untuk password Wifinya apa ya ?” aku bertanya dalam senyumku

“Passwordnya Harmoni123456”

“Terima kasih banyak mas…” sejenak aku terlupa akan panggilan “Pak” tadi. Berharap ada sesuatu yang aku dapat atau mungkin bsia sedikit meredakan mendung dihati ini saat online nanti.

“username andre_abdullah@yahoo.com password *******” aku ketikkan di form login pada halaman web yang mayoritas berwarna biru tua tersebut.

“emm.. koq lemot amat sich… padahal di kafe ini cuma ada 4 orang termasuk yang jaga. Wah jangan-jangan ada yang sabotase nih…”

selang lama akhirnya terbuka juga. Aku berharap ada yang sesuatu yang menginspirasi namun ternyata wall ini penuh dengan kata-kata bersayap penuh keluhan dan kegalauan. “Aduh.. kenapa jadi semakin ill feel ?” ku geser scroll kebawah. Ternyata setali tiga uang. Kalau ndak gambar egois (baca: penuh wajah diri) ya wajah penuh harga (baca: jual beli).

“Hmm.. salah tempat ini..” kata ku dalam hati

Beralih ke lembar putih tadi. Kutarik nafas panjang sambil ku pejamkan mata. Ku mulai dengan satu kata “Kenapa… ”

Tak terasa tangan dan memori ini bekerja sama. Kayaknya gigi roda sepeda yang dikayuh.

“Meskipun berat harus aku tuliskan, klo ndak bisa jadi rendaman penyakit hati ini” kata kepada diri ini.

Tidak mudah untuk melupakan, terlebih terhadap hal yang berkesan, baik yang berkesan sangat baik atapun sebaliknya. Walaupun manusia adalah tempat salah dan lupa. Tak mudah untuk menghapus ingatan yang terdalam. Dari sisa-sisa memori yang ada aku mulai tuliskan. Betapa harapan dan kenyataan tidak selalu akur. Tak bisa di pungkiri, menghapuskan ingatan akan seseorang yang pernah berkesan tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga tak sesulit membalikkan telapak kaki.

Annisa, sejauh aku mengingatnya, ada duka dan suka silih berganti dalam dada ini. Dimulai dari masa kuliah dulu. Semester 3.. dimana hari-hari hanya kuisi dengan belajar dan belajar. Tak mau mengecewakan orang tua yang mengamanahi ku untuk mencari keutamaan ilmu. Namun kilatan mata itu yang memecahkan semuanya.

Tak kusangka awal pertemuan di kegiatan UKKI itu membuat aku kagum dengan dia. Tak ada yang spesial dari akhwat ini. Terkecuali tak pernah sedikit pun dia melihat mata ihwan saat berbicara langsung. Kecuali dalam majelis ilmu. Awal kurasa apakah dia sakit atau kenapa. Lambat laun aku paham bahwa itulah namanya menundukkan pandangan.

Ada gula, Pasti ada Semut. Ada kajian di masjid, Pasti Ada Annisa. Keseriusannya dalam mengkaji ilmu itulah yang yang merubah niat lurusku. Aku menengadahkan tangan, berharap Sang Pemilik Hati ini merubah ini semua. Tapi ternyata semakin menderu pula rasanya. Akhirnya tepat di Semester 5, aku beranikan diri untuk mengkhitbah dia. Aku tahu ini gila, tapi aku ingin menyakinkan diri apakah Doa ku benar-benar terkabulkan.

Namun sudah terduga untuk jawabannya. Bahwa sesungguhnya aku telah diterima. Ya benar… diterima untuk jadi teman biasa saja.

“Maaf Akhy, Nisa belum bisa menerima maksud baik Akhy, karena Nisa masih punya impian dan harapan untuk diwujudkan. Jika memang berjodoh kelak pasti akan ditemukan Allah. Sekali lagi Nisa minta Maaf”

Aku kembali ke Kos dengan langkah gontai. Namun Alhamdulillah rasa penasaran ini terobati. Kini aku sudah tahu bagaimana, bahwa sesungguhnya Allah itu pencemburu. Tak rela jika kita menduakan cinta-Nya. Semula dimana hati ini untuk keutamaan ilmu dan orang tua, yang sudah jelas ada ridho Allah di dalamnya. Kini telah berubah oleh cinta yang yang belum semestinya. Entah bagaimana bisa, atas pengkhianatan Cinta ku pada-Nya, Allah masih menampilkan rasa Maha Pengasih dan Penyayang pada diri ini.

Setelah Lulus Kuliah, aku dengar Annisa mendapatkan beasiswa ke cambridge, guna melanjutkan studi Master disana. Ada rasa bahagia dan miris jadi satu. Entah kenapa jawaban dia 2 tahun lalu masih sering terlintas di pikiranku. Tapi aku sadar bahwa semua sudah dipersiapkan. Karena sebelum nafas awal kita di dunia, Allah sudah tentukan segalanya. Cinta tidak datang di waktu yang cepat, tapi Allah memberikannya diwaktu yang Tepat.

Tak keterasa sudah 3 halaman A4 aku menulis. Ku sruput kopi ku tadi.

“Lohh koq dah dingin sih ? Wah sabotase lagi ni kafe”

aku lihat ada kipas angin di dinding sebelahku dan menghadap tepat di kopi yang lupa belum aku tutup setelah tegukan kedua tadi.

“Astaghfirullah… sudah salah sangka ini”

“Mas..Mas..”

“Iya Pak ada yang bisa dibantu” Ya ampun Pak lagi…

“Saya minta Maaf Mas, pesan kopi lagi boleh, tapi yang puanas banget ya… dan jangan panggil pak, kita masih seumuran lo…”

“oh Maaf Mas.. pake expresso tidak”

“Pake apapun penting enak ya Mas..jangan lupa cangkir nya ya Mas” candaku pada Pelayan Kafe ini. Aku harap itu sedikit mengurangi dosa ku yang sudah berprasangka buruk tadi.

Ku mulai lagi tulisan ku tadi. Tapi bukan tentang kenangan dan kata-kata kemarin. Tapi lebih kepada Kini dan Nanti. Dimana Cinta berada dan Siapa dan Bagaimana, hanya Dia sang Pemilik Cinta yang Tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: