Hujan Datang saat Gersang (Sebuah Cerpen)

Entah sejak kapan rasa miris ini hinggap di hatiku. Seperti angin malam yang tiba-tiba masuk melalui angin-angin kamar. Tak terdengar dan tak terduga sudah dingin kaki ini. Gelisah mulai menyeruak ditengah hiruk pikuknya pilihan akan masa depan. Hari ini kembali lagi. Kuhitung sudah tujuh. Ya benar… 7 kali ikhtiar ku tidak berbuah manis. Dari 3 tahun lalu sudah memulai untuk membuka hati. Mencoba untuk mulai memilih hati mana yang sudah Sang Maha Cinta persiapkan untuk ku. Hati mana yang yang sudah dicatat dalam lauhul mahfudz -Nya.

Satu, dua, tiga yang dipilihkan sudah pergi. Tak mengerti apa yang sebenarnya di inginkan Allah pada ku.

“Ya Allah, kenapa aku harus diberikan yang Salah dulu sebelum diberikan yang Benar. Jaga Hati ini agar tidak terlalu sakit jika pilihan Mu tidak sama dengan pilihan ku…Aamiin…”

Disudut kamar ini aku merenung. Mungkin dengan diberikan yang salah kita tidak akan pernah tahu kebenaran itu apa. Karena kita tidak punya pembanding antara yang benar dan yang salah. Tapi disetiap perjalanan dan pencarian yang ditempuh, tidak sedikit pula luka yang tergores dalam hati.

Sebenarnya bukan maksud hati untuk memilih namun ini juga termasuk amanah dari ibu ku. Aku masih ingat 3 tahun lalu beliau berkata

“Le.. Sebentar lagi kamu wisuda, kamu juga sudah menjadi kerja. Insya Allah profesimu ini baik, terus nunggu apa lagi to ??”

“Nunggu apa to bu e, insya Allah Bulan Depan kan saya Wisuda, jadi nggeh sabar mawon”

Entah aku ini memang bodoh dengan pertanyaan ini atau sedang berlagak bodoh. Sebenarnya aku tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Hmmm.. minimal cari-cari pandangan gitu lhoo, apa ndak pengen to kamu itu pacaran kayak anak-anak muda jaman sekarang…?”

sambil tersenyum aku menjawab. Dan sekarang aku tahu keinginan Bu e pada ku

“Bu e yang cantik.. bukan bermaksud untuk ndak mau mencari atau memilih, Insya Allah sudah dipersiapkan sama yang Di Atas. Kalau saya pacaran itu berarti menghendaki sesuatu yang ndak baik, bukankah sesuatu yang baik datang dengan cara yang baik, leres nopo leres?” Goda ku pada ibu.

“Lha terus kapan…kamu kenalkan ke Bu e..?? Bu e tahu sampean punya prinsip. Tapi jangan terlalu fanatik, karena fanatik itu ciri-ciri orang bodoh. Sebentar lagi Bu e pensiun dan Bapak juga, bulek Narmi dah menggendong cucu. Dek Novi anaknya lek Darto dah hamil 6 bulan. Waktu itu ndak bisa di tunggu lho Le… Besok atau lusa kita ndak tahu umur kita. Bahkan Bu e dan Bapak Juga”

Kata itu bagai cambuk dalam hati ku. Apakah aku yang egois atau bagaimana. Ini bukan soal masa depan ku saja. Tapi juga masa depan orang tua. Terasa bertambah berat beban di punggung ini. Dalam diam ku, Bu e terus memberikan wejangan agar aku mulai membuka hati ini. Karena Beliau tahu bahwa ilmu adalah cinta ku satu-satunya saat ini.

Aku hanya bisa menatap lantai. Entah ini wujud ke tawadhu’ an ku pada orang tua atau ketidakmampuan ku menatap wajah Bu e. Sama dengan sebelumnya pembicaraan itu berakhir dengan aku yang hanya bisa terdiam.

Semakin gersang hati ini jika mengingat itu semua. Aku adzam kan dalam hati bahwa aku akan mencoba untuk membuka hati ini.

Tak kusangka, sekali membuka pintu hati bukan berarti langsung pas siapa yang bertamu. Setiap tamu pasti mengetuk namun yang datang tidak selalu yang ingin masuk kerumah. Ada yang hanya menanyakan alamat rumah lain. Ada pula yang cuma duduk diteras untuk berteduh, ada pula yang sudah masuk cuma salah alamat.

Memang perjalanan hidup tak semudah cerita Cinta dalam novel. Dimana awal dan akhirnya bisa terbaca meski hanya melihat daftar isinya. Disetiap ketukan pintu pasti kita tahu siapa yang mengetuk. Bagi kita tuan rumah mempersilahkan masuk adalah suatu kewajaran. Namun jika tamu tersebut berhendak lain itu juga suatu kewajaran.

Banyak yang sudah diharapkan tidak hanya masuk dan bertamu tapi menetap dalam rumah dalam hati ini. Namun berbagai kemungkinan bisa terjadi. Karena hidup ini adalah rentetan dari kemungkinan bukan kepastian.

“Maaf mas bukan bermaksud menolak tapi untuk saat ini saya belum siap. Jika memang jodoh ndak kemana koq”

“Maaf bapak saya cocok dengan kondisinya, sekali lagi saya minta maaf”

Harapan selalu diselingi dengan kekecewaan. Setiap orang berhak memilih begitu juga dengan penerimanya. Kita boleh berharap namun semuanya hanya Sang Pemilik Hati ini lah yang menentukan siapa yang berlabuh di dermaga kita.

“Alhamdulillah Le kamu sudah ada pandangan.. tapi koq bu e kurang sreg ya..”

“Cantik sih, tapi koq…”

“Hmmm…..”

Suatu waktu mungkin kedua hati seolah-olah bisa bernada sama. Bisa selaras dalam mendendangkan nyanyian Cinta. Namun pemilik gitar tak selera dengan nada tersebut.

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda. Namun juga bagaimana menyatukan dua keluarga yang berbeda adat istiadat, pandangan dan pemikiran. Mungkin inilah ujian awal saat memulai membangun suatu keluarga. Bagaimana agar kedua keluarga itu bisa sejalan dengan harapan dan impian kita.

Hangat Kopi ini menjadi teman yang sangat akrab dengan gemercik hujan malam ini. Jalan enggan menampakan fungsinya untuk dilewati. Hanya tetesan berkah yang terus istiqomah membasahi. Harap ku sadar bahwa ini ikhitarku yang kesekian kali. Terkadang pula hati ini ingin mendahului kehendak, takut jika hasilnya sama dengan dulu lagi. Segera Istighfar membentengi kerapuhan hati ini.

“Ya Allah jika ini yang terbaik bagi Mu, maka mudahkan lah” Doa ku dalam hati.

Turun air semakin rapat. Entah hujan atau gerimis aku tak tahu. Sudah 15 menit aku menunggu teman ku. Mungkin ini juga ujian lagi untuk sabar ku.

“Assalamulaikum…. Maaf pak terlambat soalnya di rumah hujannya lebat banget”

“Waalaikumusalam…. iya pak ndak pa pa”

Jawabku. Aku melihat teman ku datang bersama dengan istrinya. Sepertinya sedang hamil tua. Sepertinya dia dalam kondisi tak nyaman. Melihatnya, jadi ingat betapa berat dan besarnya jasa seorang ibu.

“Sehat Mbak” Sapa basa-basi ku

“Alhamdulillah” Jawab istri teman ku

“Kata dokter kira-kira bulan apa pak ?”

“InsyaAllah Bulan 12 ini, mohon doanya ya”

doa dan impian selalu mengiringi istri teman ku tersebut. Itulah mungkin yang membuat surga ditelapak kaki ibu.

“Ini orangnya yang saya ceritakan Pak” Sambil tersenyum temanku

Astaghfirullah aku lupa tujuan ku kesini. Mungkin terlalu terbawa perasaan dengan kondisi istri teman tadi, aku jadi lupa bahwa hari ini aku mulai ta’aruf dengan adik teman ku ini.

Sudah lama ternyata dia duduk disamping sahabatku tadi. Aku hanya bisa melempar senyum dan sedikit memandang kearahnya.

Gemercik hujan dan embun senyuman itu ku harap sebagai menyubur gersang hati ini.

Cinta itu bukan bukan tentang seberapa cepat. Tapi Allah memberikannya di waktu yang tepat. Seperti hujan yang datang saat bumi ini merindunya.

Advertisements

1 Response so far »

  1. 1

    Siti yulaikah said,

    Hemm…bagus ceritanya
    Baru jadi ya😊


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: