Menggenggam Buih

Sudah dari dahulu bahwa setiap permulaan pasti ada akhir, Meski terkadang sebagian orang tidak ingin menghendaki akhir jika permulaan dan perjalanannya sangat menyenangkan. Namun ada pula yang tak menghendaki permulaan karena dari awal sudah tidak menghendakinya. Setiap orang berkesempatan untuk memperolehnya. Namun apa yang terjadi bila awal dan akhirnya itu berbeda.

Maret ini tak seperti tahun sebelumnya. Hujan begitu rajin setiap hari membasahi bumi. Pagi ini seakan langit pun murung. Enggan menampakkan senyum cerahnya. Menyusuri jalan tua ini setiap pagi penuh dengan harapan dan kehendak setiap desah nafas. Seakan tidak ada yang bisa dilihat kecuali arah depan.  Bunyi klakson di tiap perempatan mungkin suatu pertanda akan banyaknya tekanan akan ketidaksabaran dalam mengais rezeki. Yang mungkin, bagi sebagian kalayak itu merupakan suatu kewajaran yang pasti.

Tiada hidangan pagi yang lebih manis kecuali senyum sapa kerabat. Lagi pula hanya itulah yang bisa aku sedekahkan. Tapi entah kenapa hati ini terasa senyap meski banyak senyum yang sudah mencoba menggembirakan. Memulai aktivitas tanpa ada niatan hati adalah hal yang berat. Bagaimana seseorang bisa bekerja tanpa melibatkan hati ? Sedangkan itulah yang membedakan kita dengan mesin. Entahlah… merasa ada yang salah tapi membenarkan diri sendiri. Merasa ada yang sakit tapi tak mau tahu apa itu namanya obat hati. Memulai memejamkan mata ini agar lebih mendengar apa pinta hati ini.

Kembali lagi.. bingung akan apa yang terjadi pada diri ini. Kenapa jadi seperti ini. Mulai sulit lagi berdialog dengan hati. Bukannya itu hal yang mudah mengenali dan berbicara kepada makhluk yang disamping kita setiap saat? Mencoba menguraikan satu persatu. Layaknya mengurai rajutan pintalan tali temali. Kalau boleh jujur aku tak yakin dengan yang ku lakukan saat ini. Seperti menggenggam buih, terlihat melimpah ruah dan kuat namun itu bersifat sementara dan tak pasti. mengeluh mungkin hal yang mudah dan bisa dilakukan saat ini. Terutama dengan menulis seperti ini. Dalam diam ini aku mencoba pahami. Bahwa tiada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan diri.

Terkadang rasa iri dan dengki ini muncul saat impian dan nikmat yang kita tunggu-tunggu diterima orang yang menurut kita tak pantas. Bagaimana bisa puas jika ada orang yang tak melakukan susah payah yang seperti yang kita lakukan, mendapatkan apa yang kita harapkan dengan mudahnya. Mungkin inilah yang dimaksud dengan keadilan itu bukan sama rata. Karena penentu ukurannya bukan kita, sedangkan kita hanya pembuat masalah semata. iya benar masalah, merupakan ciri kita hidup. Tanpanya tak pernah ada kehidupan, pembelajaran dan bahkan kenangan.

Meskipun semua harapan dan mimpi kita tak akan pernah terjadi. Tapi diri ini adalah harta karun yang paling berharga. Bukan karena kehadiran yang utama namun lebih kepada kemana jalan hidup ini akan dibawa.

Wahai Dzat… yang memiliki Masa… tak ada yang bisa kulakukan saat ini kecuali menunggu. Kerana segala macamnya akan diselesaikan oleh waktu. Untuk itu aku memohon agar Engkau bantu diri ini untuk menemukannya kembali…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: