Sahabat dan Cinta Bag 1 (Sebuah Cerpen)

Hujan disore ini tak seperti biasanya, terasa Begitu dingin bahkan sampai ke relung hati. Laju motor ini pun serasa tak sperti biasanya. Kenapa bisa begitu lambatnya, padahal baru kemarin aku service dan ganti oli.

“Apakah bengkelnya kemarin cuma asal betulin aja ? Astaghfirullah…” Gumam ku dalam hati.

Gerimis pun semakin rapat. Serasa menusuk dalam kulit, padahal aku memakai jaket tebal ini. Dinginnya tak seberapa dengan dinginnya hati. Begitu halnya dengan sikapnya pada ku seminggu ini. Bagaimana seseorang bisa bertahan coba. Bila seseorang tersebut tiap hari diacuhkan, bahkan salam dan senyum pun tak muncul dalam gurat wajahnya, meski diri ini sudah memulainya dulu.

“Sabar Ara… Kamu kan udah minta maaf…” Kataku pada diri ini.

Ku pacu lebih lagi motor matic ku. Berharap hujan deras tak medahului aku sampai kerumah. melihat ufuk mendung pun seakan marah pada ku. Seakan tahu betul bahwa jengkel banget hati ini. Huft…

Alhamdulillah hujan turun derasnya. Pertanda Bahwa rahmat Allah itu tidak ada yang sia-sia, terutama karena aku sudah sampai dirumah sebelumnya. he..he..

“Nduk segera mandi kemudian sholat magrib, nanti waktunya keburu habis lhoo”

“Iya buk… ”

Segala macam kontrol diri ini ada pada ibu. Entah jadi apa diri ini bila beliau tidak pernah menegurku. Semua hal yang akan aku lakukan selalu meminta saran ibu dulu. Tapi untuk masalah ini, aku tak mau membebaninya.

“Lagi pula aku kan ndak salah…” Ungkap jengkel ku.

Kalau teringat hal tersebut, hati ini kembali sakit. Aku coba untuk mengkoreksi dan muhasabah diri. Apakah ada kata-kata atau perbuatan ku yang salah.  Sempat aku tanya langsung tapi hasilnya nihil. Yaitu tiada jawaban. Astaghfirullah…

“Ya Allah, tidak ada dalam benak ku sedikitpun untuk menyakiti perasaan orang lain. Mohon petunjuk Mu apakah yang harus hamba lakukan”.

Entah kenapa akhir-akhir ini dalam doa ku terbesit tentang dia. Dia yang dulu tak pernah terpikirkan sedikitpun. namun sekarang dia menjadi sosok yang membuat aku terus menginstropeksi diri, berusaha memahami diri, apa yang sebenarnya terjadi antara kami.

Azizir Rahman, tiada yang spesial atau bahkan patut dibanggakan dari dirinya. Selain dirinya yang ringan tangan dan sering membuat  tersenyum. Saat menghadapai penatnya lingkungan kerja, terutama ruang kerja kantor. Terkadang ada keinginan bagi ku untuk membeli jajan keluar atau sekedar melempar candaan agar suasana tidak senyap dan sunyi. Suatu kewajaran memang dilingkungan kerja untuk bekerja dan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Terutama pada perusahaan finance.

Dalam divisi Kredit membutuhkan kerja team yang solid. Aku di bagian CS, yang bersinggungan langsung dengan pelanggan. Membuatku harus bisa mengontrol emosi dan bahasa ku. Yanti mungkin adalah sosok CS yang pas,Sikapnya yang dewasa dan tenang bisa menghadapi berbagai macam sifat costumer. Kami berteman sudah 5 tahun lebih. Semenjak aku bekerja disini, Yanti, Dika, Rahman adalah sahabat sekaligus team work yang solid buat ku. Meskipun divisi kami paling banyak kerjaannya. Namun tak merasakan beban sedekitpun disini. Disaat kami sedang fokus kelayar masing-masing. Rahman selalu ada cara membuat kami tertawa. Meski dengan menggser kursinya Dika, sehingga dia terjatuh saat akan duduk. Ya benar… Dika selalu fokus dengan komputernya. Sehingga tak sadar bahwa kursinya sudah berpindah tempat .

“Ka..ka..  makanya jangan Fokus ke layar mulu…”

“ha..ha..”.  Pecah tawa kami bersama.

Rahman selalu dan pertama berangkat duluan saat makan siang. Karena dia sangat senang sekali keluar kantor. Suatu saat pernah hanya dibelikan 3 bungkus saja. ketika Dika tanya, “Lah.. punya ku mana? ”

Dia menjawab… “kamu pesen juga toh.. tak kira kamu cuma makan mouse dan keyboard aja…”

“Eh jangan gitu… Kamu tu yang kelewat usil.. dia itu calon pegawai teladan lhooo” Tambah ku untuk Dika.

Terasa benar-benar usil, Namun karena itulah suasana kantor seperti dirumah. Kekeluargaan begitu kental disini. Meski saling usil dan bercanda tiada pernah sakit hati atau marah satu sama lain. Makan bersama, jalan-jalan bersama bahkan tiada sekalipun makan siang dikantor terlewatkan tanpa mereka.

Namun saat ini berubah.  Rasa hangat setiap makan siang dan bercanda di kantor sudah tiada lagi. Entah kenapa saat aku datang, Rahman selalu diam, bahkan seolah-olah menghindar dari ku.Tiap akhir pekan, saat pulang kerja, biasa bagi kami untuk mampir dulu di suatu cafe. Sekedar curcol, ataupun koordinasi masalah pekerjaan dengan ringan. Meski hanya sebentar namun hal itu kembali menambah rasa kebersamaan kami selama ini. Tapi saat ini Cuma Yanti, Dika saja yang bisa. Semakin aku bingung dibuatnya. Kenapa, mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi.

Sabtu ini di cafe Mochi. Aku, Yanti dan Dika melakukan ritual biasanya. Namun entah kenapa saat ini seolah-olah aku duduk di kursi pesakitan dalam sidang pengadilan perkara.

“Ra… aku mau tanya, Kamu ada masalah apa sih dengan Rahman”

“egh.. glek.. iya tuh… Ada pa to ?. Kamu datang Rahman pergi, begitu juga sebaliknya. Kayak air dan minyak aja. ndak pernah nyampur”  celetuk Dika tiba-tiba

“eh kalu minum tu jangan sambil ngomong, keselek tau rasa kamu”

“uhuk…uhuk…”

Belum cukup aku bicara, sudah keluar air susu dari hidungnya Dika. ha..ha…

Temanku yang satu ini memang pandai menghibur dengan kecerobohannya. Dika memang sulit fokus atau bahkan terlalu fokus pada sesuatu, sehingga terkadang melupakan hal penting disekitarnya.

“Tiara… please dech… ada apa sebenarnya..?? kamu tahu kan kita ini dah kayak saudara, tiada saudara yang betah jika melihat saudara tidak saling sapa bahkan saling mendiamkan selama berhari-hari”

“iya, ndak enak lho dilihatnya, satu ruangan tapi kayak terpisah dinding tebal. Sumpek ah” tambah Dika sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.

“Ra… kami sebagai teman tak mau ada hal-hal kecil yang bisa merusak persahabatan kita, apakah nggak sayang bila pertemanan sejak 5 tahun lalu rusak karena ada hal-hal yang disembunyikan”

Kata-kata yanti membuatku semakin miris. Aku tak mengerti apa yang harus aku katakan pada mereka. aku tak mau juga karena masalah ini membuat sikap mereka juga berubah nanti.

“Entahlah.. Yan.. aku juga tidak tau persis apa penyebabnya, aku mencoba bersikap sewajarnya tapi imbal baliknya dia beda”. Sanggah ku

“Lhoo… Koq ndak tau sih?” potong Dika tiba-tiba

“Jika saja aku tahu salah diri ini pada nya, aku kan minta maaf, tapi aku sendiri tak tak kenapa dan mengapa dia jadi seperti itu.”

Mendengar jawabanku, raut wajah yanti mendadak serius. Mungkin bingung dengan itu tapi itulah yang sebenarnya terjadi, dan aku sudah jujur kepada mereka.

“Kamu dah pernah ngobrolin ini ke Dia ?” tanya yanti tiba-tiba

aku jawab dengan anggukan kecil sambil ku sruput lemon tea yang ku pesan tadi.

“Terus respon dia apa ?” tanya Yanti seperti jaksa penuntut umum.

“Ya sama seperti yang kamu lihat tiap harinya, dia hanya diam, seolah-olah mendengarkan mungkin, terus pergi gitu aja, pernah aku coba untuk minta maa jika ada salah kata atau perbuatanku, tapi nihil, bagaimana coba Yan…?? Astaghfirullah.. apa yang harus aku lakukan, apakah selama aku berteman dengan kalian kata-kata ku menyakitkan hati ya ?”

Mengetahui ungkapan tersebut Yanti dan dika hanya bisa fokus menghabiskan minuman masing-masing. Mungkin terasa berat bagi mereka dan bahkan membingungkan juga.

Diam sesaat, adalah yang bisa kami lakukan saat itu. Mungkin karena terbawa sepinya cafe. Semakin sore semakin sepi juga cafe Mochi ini, tak biasanya seperti ini di akhir pekan yang lain. Seakan tahu betul bahwa hati ini juga sangat sepi dan sunyi.

“Maaf Ra.. kalau boleh nanya sesuatu ?” Baru pertama kali ini aku melihat tatap mata dika begitu sangat serius. Dika yang terkesan ceroboh dan tak peduli pada sekitarnya selain komputer. Dengan masih kaget dengan raut mukanya, aku hanya bisa mengangguk kecil.

“Apakah Rahman sebelum ini pernah bertanya pada mu tentang sesuatu, atau tanya hal yang menurut mu nggak penting ?”

Benar, pertanyaan Dika membuat aku mengerutkan keningku. “em… Keliatanya ndak ada deh, bukannya dia terbiasa mengatakan sesuatu yang ndak penting buat kita” Tangkas ku.

“Memang setiap keluar dari mulut Rahman hampir semuanya bercanda, atau bahkan hanya guyonan, hal itu dia lakukan untuk membuat kita tertawa, membuat suasana kerja kita ndak ngebosenin, agar kita makin akrab. Tapi mungkin pasti ada yang lain, dimana itu mungkin terdengar aneh bagimu, Coba kamu ingat ?”

Yanti pun seakan tak percaya dengan pertanyaan Dika. Dia hanya bisa memandangku sambil sedotan lemon tea itu tetap dalam bibirnya. Aku hanya bisa menunduk memandangi gelas lemon tea ku, yang separoh kosong. Sambil mengingat pembicaraan ku dulu dengan Rahman sehingga muncul masalah ini.

“Apa mungkin yang itu ?” ungkap ku ndak sengaja

“Apa itu Ra..??” potong Yanti tiba-tiba.

“Aku ndak yakin tentang hal itu, tapi itu merupakan terakhir kali aku chat dengan Rahman sebelum ini. Awalnya hanya tanya masalah status kreditnya pak Amir yang sering macet. Namun Dia tiba-tiba tanya tentang persamaan aku dan dia, dimana itu yang membuat persahabatan kita semua menjadi akrab sampai sekarang, selain itu dia jua mention puisi di twitter ku”

“Hah Puisi…. puisi apaan ?” teriak kaget Yanti dan Dika serentak.

“saat ku tanya itu tentang persahabatan,  kalo ndak salah, sebentar tak bukakan twitter ku” sambil ku geser layar ponsel ku keatas secara terus menerus, mencari apakah ini penyebabnya. Dika dan yanti memperhatikan layar ponselku dengan seksama.

Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai persamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sempurna? ~Jalaludin Rumi~ @Tiara91@AzizirRahman

“Terus kamu reply apa Ra..?” tanya Dika lagi, baru kali ini Dika begitu seriusnya akan hal lain selain komputer.

“Ya Aku jawab, Burung terbang pakai sayaplah, masa naek Air Bus, memang dia syaroni yang punya jet pribadi, gitu…”

“Ha…ha… ” Tertawa Yanti lepas,

Sedikit juga aku tersenyum akan hal itu, tapi masih ada tanya tanya dibenak ku. Apakah karena jawabanku itu di jadi cuek kayak gini. Aku tak melihat wajah senang dari Dika mendengar jawabanku itu.

“Tiara… kamu itu bener ndak bodoh, ndak tau atau emang cuek sih ?”

“Maksud mu Dik…???” Jengkel Ku.

“Ya Ampun Ra… Coba kamu lihat lagi tweetnya, kemudian kamu bandingkan dengan sikap dia sebelumnya sama kamu ?”

“Jangan malah membuat ku semakin bingung deh Dik, aku ndak suka maen tebak-tebakan saat gini”

Dika tak mengerti bahwa penuh pertanyaan yang belum terjawab dalam pikiran ku selama ini. Semakin ruyam juga urusan persahabatan ini.

“Gini aja wes,  Besok kamu dan Rahman aka ku pertemukan dan ini harus diselesaikan, kamu jelaskan semuanya”

Ungkapan Dika bak petir menyambar, bagaimana aku harus memulainya lagi. Berapa kali aku harus minta maaf dan mengawalinya. Astaghfirullah…

–Bersambung—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: