Aku Mengkhitbah mu untuk Menduakan mu (Sebuah Cerpen)

Serasa sesak dada Raisa, Bukan karena sakit asma, namun karena apa yang telah dialaminya. Bagaimana tidak, setelah sekian lama menunggu seseorang yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Datanglah seseorang yang berani mengambil resiko untuk menanggung setiap kehidupan dan dosa akan dirinya. Tapi apa daya, kali ini amatlah pelik bagi Raisa, karena syarat yang diminta calonnya.

Sudah umur berkepala tiga, dimana dahulu sudah banyak yang mencoba untuk merajut asa dengan nya. Tetapi, karena cinta nya lebih besar kepada cahaya ilmu, banyak calon yang pulang dengan tangan hampa. Dimulai dari saat masih berpendidikan strata satu, salah satu teman baiknya, Rian mencoba meminangnya. Dia adalah teman yang selalu disampingnya. Meski tak nampak raut wajah akan kasih dan suka. Tapi Rian sabar dalam diamnya Cinta. Sebelum wisuda dia beranikan diri untuk mengungkapkan segala gemuruh dalam hatinya kepada Raisa. Read the rest of this entry »

Advertisements

Comments (2) »

Ketika Cinta Harus Memilih (Sebuah Cerpen)

Gemercik hujan belum terhenti dari tadi malam. Daun dan ranting mengangguk bergantian. Nampaknya matahari masih malu untuk menampakan senyumnya. Jalan yang masih basah meredam semua langkah kaki. Memandang keluar dan merasakan dinginnya hari, rasanya menusuk dalam palung jiwa. Andai saja diri ini awan yang disana. Pastinya hujan aku turunkan dari kelopak mata ini. Masih teringat dengan perkataan kakak semalam. Seperti guntur di siang hari. Aku tak mengerti mengapa dia begitu tega berkata demikian. Ketika malam kemarin terjadi perdebatan antara ibu, aku dan dia. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Jauh Dimata Dekat Di Doa (Sebuah Cerpen)

“Muhammad Farid, Sarjana Pendidikan Islam” Panggilan itu membuat aku melaju tegap dan penuh harap. Aku gugup, ternyata setiap langkahku diperhatikan. Sambil melangkah ku tarik nafas panjang. Sadarku, bahwa ini adalah langkah awal untuk tanggung jawab keilmuanku. Aku fokus pada Bu Aisyah yang sudah siap untuk mengganti arah tali pada topi toga ku. Read the rest of this entry »

Comments (1) »

Hati Ku Tertinggal di Mushola (Sebuah Cerpen)

Bergetar lagi hati ini, “haduh.. kenapa hari ini datang begitu cepatnya”. Serasa baru saja aku bertemu dengan dia dan merasakan kakunya kaki ini berserta keluhnya lidah ini. Bagaikan orang bisu dan tuli. Tiada yang bisa di katakan dan tiada yang bisa didengarkan. Saat aku berpapasan dengannya, Mata ini berubah menjadi mata kuda yang fokus pada sesuatu meski banyak hal dan orang yang harus diperhatikan.

“Fita, kamu kenapa ? Sakit ya..? koq berkeringat dan terlihat gelisah begitu ?” Read the rest of this entry »

Leave a comment »

From Hero to Zero

Sedikit mundur kebelakang saat tahun 2009 dan 2010, mungkin saat itu hidup ini lebih susah, karena tidak hanya financial aja yang kurang namun ilmu dan pengalaman bahkan pengamalan juga miskin. Bagaimana dulu modal utama ku hanya cita-cita dan keinginan yang kuat. Entah kenapa mungkin banyak orang disekitarku berpikir bahwa aku ini inocent atau bahkan mad man (istilah kerennya gendeng). Dengan segala keterbatasan aku bisa menjalaninya dengan baik meski pernah terseok-seok atau bahkan setengah mati mungkin. Namun itu semua kulalui selama 8 bulan dengan penuh senyum dan ketabahan. Dan alhamdulillah aku bisa membuktikan bahwa dengan tekad dan impian ku yang terus-menerus ada aku bisa berubah dari kosong ke nilai, from Zeor To Hero, semua berubah saat aku menjadi seorang guru. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Menari Diatas Angin (Sebuah Cerpen)

Hembus angin disemilir awal hidup, memulai indah akan karunia sang Pelukis alam Semesta. Tidak ragu untuk meratapi apa yang terjadi kemarin, Membuat Rio sadar bahwa kehidupan tidak seperti apa yang dia inginkan. Namun itu semua bisa tertuang dalam pengaribaan sujud subuh yang dia lakukan. Hati takut dan Harap yang menjadi satu, membuat khitmad pagi itu. Dikala sebagian makhluk masih bosan untuk menatap awan, ia sudah menengadah tangannya untuk memohon kemudahan dan keringanan atas perjalanan hidupnya.

Ya Robb, ingatkanlah diriku dan tenangkan hati ku, saat diri ini dalam keadaan senang, bahkan dalam keadaan susah,” Doa yang dipanjatkan

menatap sajadah yang dijadikan alas atas kelemahan dan pijakannya saat tiada kekuatan lagi untuk menahan beban hidup. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Keabadian Cinta (Sebuah Cerpen)

Nampak antrian sudah banyak, layaknya orang yang mau lempar jumrah, saling berdesakan dan tak menghiraukan. Semua menunggu karena namanya juga ruang tunggu. Namun atmosfir ketidaksabaran dan keluhan di ruangan itu yang membuat aku bertanya “pantaskah ini disebut sebagai ruang tunggu ?”, Semestinya dinamakan Ruang Sabar. Jam menunjukkan 07.30, namun loket belum buka sama sekali. Terdapat papan diatas loket yang bertuliskan “BUKA 07.00 s/d 16.00” dan itu menambah tekanan saat aku membacanya.

“115 hemm… lama ini kelihatannya” gumam ku. Aku pun segera mencari kursi kosong untuk menambah energi ketidaksabaran di ruang itu. Read the rest of this entry »

Comments (1) »