Posts tagged cerpen

Sahabat dan Cinta Bag 1 (Sebuah Cerpen)

Hujan disore ini tak seperti biasanya, terasa Begitu dingin bahkan sampai ke relung hati. Laju motor ini pun serasa tak sperti biasanya. Kenapa bisa begitu lambatnya, padahal baru kemarin aku service dan ganti oli.

“Apakah bengkelnya kemarin cuma asal betulin aja ? Astaghfirullah…” Gumam ku dalam hati.

Gerimis pun semakin rapat. Serasa menusuk dalam kulit, padahal aku memakai jaket tebal ini. Dinginnya tak seberapa dengan dinginnya hati. Begitu halnya dengan sikapnya pada ku seminggu ini. Bagaimana seseorang bisa bertahan coba. Bila seseorang tersebut tiap hari diacuhkan, bahkan salam dan senyum pun tak muncul dalam gurat wajahnya, meski diri ini sudah memulainya dulu.

“Sabar Ara… Kamu kan udah minta maaf…” Kataku pada diri ini. Read the rest of this entry »

Advertisements

Leave a comment »

Hujan Datang saat Gersang (Sebuah Cerpen)

Entah sejak kapan rasa miris ini hinggap di hatiku. Seperti angin malam yang tiba-tiba masuk melalui angin-angin kamar. Tak terdengar dan tak terduga sudah dingin kaki ini. Gelisah mulai menyeruak ditengah hiruk pikuknya pilihan akan masa depan. Hari ini kembali lagi. Kuhitung sudah tujuh. Ya benar… 7 kali ikhtiar ku tidak berbuah manis. Dari 3 tahun lalu sudah memulai untuk membuka hati. Mencoba untuk mulai memilih hati mana yang sudah Sang Maha Cinta persiapkan untuk ku. Hati mana yang yang sudah dicatat dalam lauhul mahfudz -Nya. Read the rest of this entry »

Comments (1) »

Dimana Engkau Berada (Sebuah Cerpen)

Aku keluar dari kebiasaanku. Yang sebelumnya aku sudah terlarut dalam buaian selimut dan dekapan mimpi. Berjalan di iringi dengan desing mesin dan roda, berharap angin dan debu di luar sana bisa menghapus lara ku. Entahlah kenapa ramai kulihat kota ku ini. Padahal aku tidak sebentar disini. Sejak umur 2 tahun sudah berdiam disini. Namun malam ini terasa asing bagiku untuk menyusuri jalan yang lama ku kenal. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Siapakah yang Paling Engkau Cinta? (Sebuah Cerpen)

Kembali, aku menyusuri jalan ini. Dimana perasaan akan ketikdakpastian terus mengiringi. Tatapan mata Mas Ari dan Kak Ria seperti tatapan penuh harap. Seakan mata itu berkata “Hayolah Kevin, buka hati mu kali ini”. Hmm… aku helai nafas berjalan sambil masuk kedalam kafe Starbuck di Jalan PK Bangsa. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, namun kali ini terasa berbeda. Seakan angin sore ini juga bertanya pada ku. “Apakah yang kali ini benar-banar sesuai pilihan mu ?”. Aku melihat keatas, merah mega langit seakan tersipu malu pada ku. Entah kenapa setiap kali kesini, aku jadi malu pada keteranganku sendiri.

Krek…pintu kafe terbuka. Salam sapa pelayannya begitu mesra, seakan tak jemu padaku, mengetahui bahwa hampir 3 kali pada bulan ini aku kemari.

“Mau minum apa kali ini” tanya Mas Ari padaku. Read the rest of this entry »

Comments (3) »

Aku Mengkhitbah mu untuk Menduakan mu (Sebuah Cerpen)

Serasa sesak dada Raisa, Bukan karena sakit asma, namun karena apa yang telah dialaminya. Bagaimana tidak, setelah sekian lama menunggu seseorang yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Datanglah seseorang yang berani mengambil resiko untuk menanggung setiap kehidupan dan dosa akan dirinya. Tapi apa daya, kali ini amatlah pelik bagi Raisa, karena syarat yang diminta calonnya.

Sudah umur berkepala tiga, dimana dahulu sudah banyak yang mencoba untuk merajut asa dengan nya. Tetapi, karena cinta nya lebih besar kepada cahaya ilmu, banyak calon yang pulang dengan tangan hampa. Dimulai dari saat masih berpendidikan strata satu, salah satu teman baiknya, Rian mencoba meminangnya. Dia adalah teman yang selalu disampingnya. Meski tak nampak raut wajah akan kasih dan suka. Tapi Rian sabar dalam diamnya Cinta. Sebelum wisuda dia beranikan diri untuk mengungkapkan segala gemuruh dalam hatinya kepada Raisa. Read the rest of this entry »

Comments (2) »

Ketika Cinta Harus Memilih (Sebuah Cerpen)

Gemercik hujan belum terhenti dari tadi malam. Daun dan ranting mengangguk bergantian. Nampaknya matahari masih malu untuk menampakan senyumnya. Jalan yang masih basah meredam semua langkah kaki. Memandang keluar dan merasakan dinginnya hari, rasanya menusuk dalam palung jiwa. Andai saja diri ini awan yang disana. Pastinya hujan aku turunkan dari kelopak mata ini. Masih teringat dengan perkataan kakak semalam. Seperti guntur di siang hari. Aku tak mengerti mengapa dia begitu tega berkata demikian. Ketika malam kemarin terjadi perdebatan antara ibu, aku dan dia. Read the rest of this entry »

Leave a comment »

Jauh Dimata Dekat Di Doa (Sebuah Cerpen)

“Muhammad Farid, Sarjana Pendidikan Islam” Panggilan itu membuat aku melaju tegap dan penuh harap. Aku gugup, ternyata setiap langkahku diperhatikan. Sambil melangkah ku tarik nafas panjang. Sadarku, bahwa ini adalah langkah awal untuk tanggung jawab keilmuanku. Aku fokus pada Bu Aisyah yang sudah siap untuk mengganti arah tali pada topi toga ku. Read the rest of this entry »

Comments (1) »